DIAGNOVASI

Era tehnologi infomarsi merupakan era paling mudah mendapatkan pengetahuan. Mbah google telah menjadi “dukun paling ampuh” untuk mencari petunjuk apapun. Mulai dari hal yang paling tradisional, paling kuno dan udik sampai paling modern dan futuristic. Nah jika saat ini, ada sedang “online” coba cari kata diagnovasi, bisa dijamin masih sangat sedikit dan mungkin definisinya belum ada. Kata “Diagnovasi” merupakan akronim dari diagnose inovasi yang sedang dipoperkan SAWK, dalam mengembangkan inovasi di berbagai instansi pemerintah. Sebetulnya andapun dapat melakukan yang sama, menciptakan istilahnya sendiri.

Bila merujuk pada kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) Diagnosa atau diagnosis diartikan sebagai penentuan jenis penyakit dengan cara menehliti (memeriksa) gejala-gejalanya. Dalam mendiagnosa dapat dilakukan dengan medis penentuan jenis penyakit berdasarkan tanda dan gejala dengan menggunakan cara dan alat seperti laboratorium, foto, dan klinik. Dan, pembanding diagnosis yang dilakukan dengan membanding-bandingkan tanda klinis suatu penyakit dengan tanda klinis penyakit lain.[1] Hampir sama dengan pemahaman tersebut, dalam kamus kesehatan makna Diagnosis adalah identifikasi sifat-sifat penyakit atau kondisi atau membedakan satu penyakit atau kondisi dari yang lainnya. Penilaian dapat dilakukan melalui pemeriksaan fisik, tes laboratorium, atau sejenisnya, dan dapat dibantu oleh program komputer yang dirancang untuk memperbaiki proses pengambilan keputusan.[2]

Sedangkan inovasi saat ini menjadi kata yang paling popular di dunia, bukan hanya dilingkungan swasta tetapi juga dilingkungan birokrasi. Pengeritan atau definisi inovasi jika dicari dengan mbah google lebih dari 127 juta, dari yang sangat sederhana sampai yang detail. Van de Ven, Andrew H., mengatakan bahwa inovasi adalah pengembangan dan implementasi gagasan-gagasan baru oleh orang dalam jangka waktu tertentu yang dilakukan dengan berbagai aktivitas transaksi di dalam tatanan organisasi tertentu [3] Everett M. Rogers, inovasi merupakan sebuah ide, gagasan, objek, dan praktik yang dilandasi dan diterima sebagai suatu hal yang baru oleh seseorang atau pun kelompok tertentu untuk diaplikasikan atau pun diadopsi. Lembaga Administrasi Negara mendefinisikan inovasi sebagai proses memikirkan dan mengimplementasikan kebijakan penyelenggaraan kepentingan publik yang memiliki nilai kebaruan / original, bermanfaat, berkelanjutan dan dapat direplikasi.

Dari beberapa definisi tersebut, inovasi memiliki pemahaman berfikir dan usaha mewujudkan/implementasinya. Terdapat 4 nilai yang sama antara satu dengan lainnya yakni baru / kebaruan dengah kekhasanya, memberikan manfaat / nilai tambah / memiliki tujuan, berkelanjutan dan dapat direplikasi.

Dari pemahaman dua kata tersebut, maka diagnovasi merupakan proses mengidentifikasi masalah, menemukan ide kreatif dan merumuskan intervensi kreatif untuk meningkatkan kinerja organisasi. Sebagaimana, diagnose dalam kedokteran, dalam inovasi juga sudah terdapat tool atau alat bantu seperti Pohon Masalah, S W O T & T O W S, Fish bone, Five Whys dan Force Field Analysis, Check Sheet dan Control Chart, Affinity Diagram, Force Field Analysis (1951), Leavitt’s Model (1965), Likert System Analysis (1967), Open Systems Theory (1966), Weisbord’s Six-Box Model (1976), Congruence Model for Organization Analysis (1977), McKinsey 7S Framework (1981-82, Tichy’s Technical Political Cultural (TPC) Framework (1983), High-Performance Programming (1984), Diagnosing Individual and Group Behavior (1987), Burke – Litwin Model of Organizational Performance & Change (1992), Falletta’s Organizational Intelligence Model (2008), Systems Thinking, Soft System Methodology, Wawancara / Diskusi Terbatas, Observasi, Survei Kepuasan Masyarakat, Pengaduan Masyarakat, Dokumen

Namun dari sekian banyak tool dan metode dalam mendiagnosa yang paling sederhana dan efektif adalah Wawancara / Diskusi Terbatas, Observasi, Survei Kepuasan Masyarakat, Pengaduan Masyarakat, Dokumen. Sebagai contoh Diagnosa dengan metode observasi adalah “Sedimen Waduk Berkah”. Ini merupakan trobosan yang dilakukan oleh pemerintah daerah kabupaten kebumen dalam memanfaatkan sedimen waduk sempor dan wadaslintang menjadi batu bata merah. Diagnosa dengan dokumen sebagai contoh “Mulan Jamila”. Inovasi ini didasarkan atas data laporan pengunjung perpustakaan yang semakin menurun. Untuk meningkatkan literasi di kota Yogyakarta, Dinas perpustakaan melahirkan layanan mengantar buku andalan jaminan kepuasan layanan pustakawan. Dan masih banyak lagi ide inovasi dari tool dan metode lainnya yang dapat dilihat di web resmi deputi inovasi administrasi negara www.inovasi.lan.go.id (SAWK Intan)

[1] http://kbbi.web.id/diagnosis-atau-diagnosa

[2] http://kamuskesehatan.com/arti/diagnosis/

[3] https://pengertiandefinisi.com/pengertian-inovasi-dan-ciri-cirinya/

Iklan

HARUS BERANI BERINOVASI TAPI TETAP DI ATAS REL

Pagi yang cerah, udara segar penuh dengan oksigen menciptakan kesegaran dan kejernihan berfikir. Anugrah ini, sangat dinikmati di ruang pendopo khas jawa yang terbuka dan menyatu dengan alam. Taman sekeliling pendopo menambah asri suasana ditambah dengan suasana rumput hijau di alun alun satria.

Merdeka !, salam semangat pagi  Bupati Banyumas dalam menggugah semangat inovasi aparatur sipil negaranya. Achmad Husain  yang telah memimpin selama empat tahun ini, memberikan pesan penting dalam tahap Drum Up dan Diagnose kepada para Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama, Adminsitrator dan Pengawas di lingkungan Banyumas. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh perwakilan organisasi perangkat daerah dan seluruh kecamatan di banyumas.

Hal yang tertama ditekankan oleh Bapak Bupati adalah Aparatur Sipil Negara Banyumas harus berani berinovasi, tetapi tetap di atas rel (sesuai dengan peraturan yang berlaku). Pesan ini sangat penting tentunya untuk disimak dan dicerna bersama, Banyak orang berpandangan bahwa orang berinovasi atau membuat trobosan harus outside the box thinking, membuat trobosan diluar aturan yang berlalu. Pemikiran tersebut tentunya tidak salah sepenuhnya dan tidak benar sepenuhnya. Albert Einstein menyampaikan bahwa jika kita menginginkan sesuatu berubah tetapi melakukan dengan cara yang sama, maka itu disebut dengan kegilaan.

Bagaimana menterjemahkan pesan orang no 1 di banyumas tersebut ?. berani berinovasi, tetapi tetap sesuai dengan aturan. Lembaga Adminsitrasi Negara dalam buku inovasi pertamanya Handbook Inovasi Adminsitrasi  Negara menjelaskan bahwa salah satu syarat dalam inovasi dilingkungan pemerintah atau administrasi negara adalah sesuai dengan peraturan yang berlaku. Selain syarat lainnya yakni memiliki kebaharuan / original, memberikan/ meningkatkan kemanfaatan, berkelanjuntan atau dapat direlikasi.

Berbicara tentang aturan, sudah menjadi rahasia umum bahwa peraturan di negeri kita masih memiliki tingkat ketidakharmonisan yang tinggi antara satu dengan lainnya. Ini tentunya menjadi pemasalahan sendiri di dalam hukum seperti ketidakpastian hokum. Tapi disisi lain, saya melihat ini merupakan “rel” yang dapat digunakan sebagai jalur inovasi kita. Saya berpandangan, inovasi harus sesuai dengan aturan tetapi tidak harus sesuai dengan semua aturan. Sehingga kita dapat memeilih satu aturan mana yang dapat di gunakan sebagai jalu inovasi. Jika satu aturan menerupakan satu rel, maka jalur inovasi menjadi sangat banyak dan tidak perlu merasa khawatir keluar dari rel.

Jika tidak ada rel maka ciptakanlah renya sendiri. Tidak harus menunggu rel diciptakan oleh pihak lain. Saat, saya berdiskusi dengan beberapa peserta drum up inovasi di banyumas, mereka mempertanyakan terkait dengan rel-rel tersebut yang sering tidak “nyambung” antara satu dengan lainnya. Maka, saya sampaikan, kita buatkan penghubung antara rel satu dengan lainnya dengan peraturan daerah, peraturan bupati atau lainnya.

Terkait dengan hal tersebut, pengalaman menarik didapat dari  Inovasi Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Muara Enim. Pada saat kami melakukan monitoring inovasi, beliau bercerita latar belakang terkait dengan inovasinya “Kartu Kuning di Kecamatan”. Begini ceritanya :

Suatu hari datang dua pemudi dari kecamtan terjauh di kabupaten muara enim. Jarak antara kecamtan tersebut dengan dengan kota kabupaten kurang lebih 70 km. Biaya yang harus dikeluarkan mereka lebih dari 200 ribu. Mereka sampai ke Dinas Tenaga Kerja Muara Enim jam 4 sore lebih sedikit, sedangkan jam kerja hanya sampai jam 16.00. Sehingga, dua pemudi tersebut tidak dapat dilayani dalam pembuatan kartu kuning. Al hasil, kedua pemudi tersebut harus kembali lagi dengan tangan hampa. Atau mereka harus menginap dengan biaya sekitar 150 rb/kamar/malam. Dari pengalaman ini, Kepala dinas terinspirasi untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Solusinya adalah dengan “kartu kuning di kecamtan”. Sehingga masyarakat yang akan mencari kartu kuning tidak perlu ke kota kabupaten tetapi cukup di kecamtan masing-masing.

Amanat undang-undang tenaga kerja yang berhak megeluarkan atau menerbitkan kartu kuning adalah organisasi perangkat daerah yang memiliki tugas ketenagakerjaan, sedangkan kecamatan bukanlah termasuk dalam urusan tersebut. Jika kita hanya, melihat satu undang-undang saja maka tidak ada jalan lain dan tidak mungkin membuat trobosan. Tetapi, undang-undang pelayanan publik memberikan spirit bagaimana memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan lebih berkualitas, murah dan mudah.

Pertanyaanya berikutnya bagaimana  suapaya kecamatan memiliki kewenangan menerbitkan kartu kuning ?. Jawabannya simple, berikan saja sebagian kewenangan dinas tenaga kerja ke kecamatan. Dan ini, menjadi kewenangan pemerintah/kepala daerah dalam mendistribusikan kewenangannya. Pemberian kewenangan ini tentunya dapat dituangkan dalam peraturan daerah / peraturan kepala daerah.

Penerbitan peraturan daerah / kepala daerah jika diibaratkan dalam “rel kereta api” merupakan pemindah jalur ke rel lainya. Saya teringat kata Yoris Sebastian (tokoh kreatif inodonesia), beliau menyampaikan bahwa “Saat kita menggagas ide dapat berfikir seliar mungikin (out side the box thinking), tapi saat mengeksekusi ide gagasan harus berfikir dengan box-box yang telah ada atau menciptakan box baru (inside the box thinking. (SAWK Intan)

INOVASI BLAKASUTA BANYUMAS

 

Egaliter Nilai Inovatif Blakasuta

Seringkali, orang tidak mengenal Banyumas. Jangankan Keunikan, kekhasannya, wilayahnya saja tidak dikenal. Namun, jika disebut Purwokerto, maka mereka lebih tahu dan lebih kenal. Bahkan kekhasnnya mereka kenal dengan “Bahasa ngapaknya”. Kondisi ini persis seperti orang luar negeri menenal Bali tatapi tidak mengenal Indonesia.

Saat saya bertanya kepada “mbah google” yang konon paling tahu segala hal, maka saat saya sebut “Banyumas”, dia menjawaban 13.700.000 kali, sedangkan untuk “Purwokerto” mbah google menjawab 19.800.000 kali. Ini jelas menunjukan bahwa, Purwokerto lebih popular dibandingkan Banyumas. Ini tentunya tidak terlepas dari berbagai falisitas Purwokerto seperti Stasiun Besar Kereta, Pusat Ekonomi dan lainnya.

Banyumas merupakan bagian wilayah Karesidenan Banyumasan yang meliputi Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Pemalang, Tegal dan Brebes. Wilayah banyumasan memiliki keunikan yang berbeda dengan wilayah jawa lainnya. Beberapa nilai luhur yang diwariskan sebagai modal membangun antara lain Egaliter, Blakasuta, Jujur, Kreatif, Spontan, Bersahaja, Humoris, Romantis, Religius dan Dekat dengan Alam.

Nilai egaliter menjadi nilai yang sangat nyata pada masyarakat banyumasan. Ada sebagian sejarahwan memandang nilai egaliter sebagai bentuk “pemberontakan sosial” dijamannnya yang mengedepankan kasta / kelas sosial. Secara etimologi, egaliter berasal dari bahasa Perancis : Egal, egalite atau egalitaire, yang berarti sama, tidak ada perbedaan[1]. Mestipun egaliter dan tidak menerapkan kasta sosial, Orang banyumasan tetap menerapkan sopan santun kepada orang tua atau yang dituakan.

Dalam kaitannya dengan membangun budaya inovasi kabupaten banyumas, nilai egaliter sangat penting dalam membangun hubungan humanis dan harmonis antar level jabatan[2]. “Hilangnya skat” memberikan setiap orang akan secara langsung berani meberikan pendapat dan gagasanya yang kreatif (Blakasuta).

Nilai Egaliter & Kreatif telah banyak menghasilkan tokoh besar di Indonesia. Jendral Besar Panglima ABRI Soedirman telah menghasilkan strategi perang gerilya yang sangat terkenal. Ki Enthus Susmono, Ebiet G. Ade, Titiek Sandhora – Muchsin Alatas, Bagyo, Mayangsari,  Darto Helm, Indro Warkop, menjadi legenda budaya, musikus, dan komedian nasional. Kuntoro Mangkusubroto dan Fuad Bawazier menjadi tokok kreator ekonomi Indonesia. Banyaknya tokoh yang besar dari banyumasan tidak terlepas dari  dampak positif egaliter yakni meningkatkan kecerdasan emosional (EQ) sehingga mudah menyeleraskan diri (harmonizing) dengan orang lain.

Seribu Pintu kreatifitas

Banyumas memiliki banyak potensi untuk mengembangkan kreatifitas dan inovasi. Pintu-Pintu itu antara lain dari potensi perekonomian, budaya, wisata dan administratif pemerintahan.

Pintu ekonomi untuk daerah dengan luas wiyah sekitar 132.759,56 ha sangat terbuka lebar. Data Badan Pusat Statistik Kabupaten banyumas tercacat beberapa potensi seperti 105 Bank (64 Umum + 41 BPR), 41.956 perusahaan industry, > 60 ribu pelaku UMKM dan Potensi pertanian dan perkebunan[3]. Hal ini diperkuat dengan keberadaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Purwokerto.

Budaya Kesenian Banyumas juga sangat banyak antara lain Wayang kulit gagrag Banyumas, Begalan, Calung, Lengge, Sintren, Ebeg,  Batik dan lainnya. Pada dasarnya budaya banyumasan realtif sama dengan budaya jawa umumnya. Namun demikian ada beberapa kekhasan yang membedakannya. Wayang kulit gagrag banyumasan memberikan kekhasannya pada nafas kerakyatannya yang sangat kental. Calung pertunjukan musik dengan alat dari potongan bambu yang dimainkan dengan cara dipukul. sintren, adalah tarian yang dimainkan oleh laki-laki yang mengenakan baju perempuan. Tarian ini biasanya melekat pada kesenian ebeg. Di tengah-tengah pertunjukan biasanya pemain ditindih dengan lesung dan dimasukan ke dalam kurungan, di mana dalam kurungan itu ia berdandan secara wanita dan menari bersama pemain yang lain.

Untuk potensi wisata, banyumas juga memiliki banyak objek yang menarik, wisata alam, wisata sejarah, wisata keluarga, wisata kuliner dan lainnya. Wisata alam meliputi wisata air seperti Baturaden, Pancuran Pitu, Pancuran Telu, Curug Gede, Curug Ceheng, Curug Belot, Curug Cipendok, Telaga Sunyi, Mata Air Panas Kalibacin, Bendung Gerak Serayu, Curug Nangga Pekuncen Ajibarang dan lainya. Wisata lainnya Gua SaraBadak, Bumi Perkemahan Kendalisada, Wahana Wisata Lembah Combong, Batur Agung Adventure Forest. Wisata sejarah antara lain Masjid Saka Tunggal, Museum Wayang Sendang Mas, Museum BRI Purwokerto dan Museum Jenderal Soedirman. Wisata keluarga seperti  Combong Valley Paint Ball and War Games, Serayu River Voyage, Dreamland Spring Water Park, Depo Bay, Taman Rekreasi Andhang Pangrenan dan Baturraden[4].

Potensi inovasi yang mungkin belum terlalu dioptimalkan dalam administratif pemerintahan, sebagai contoh luas wilayah, 27 kecamatan, 30 kelurahan dan 301 desa dengan 1.015.700 jiwa penghuninya. Sebagai contoh, penduduk banyumas saat ini yang menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri mencapai 5.642 orang. Sebagian besar pemerintah daerah belum mengoptimalkan mereka sebagai duta promosi pemda. Salah satu film pendek yang dihasilkan TKI asal Taiwan dengan judul TKI BISA APA ? dan bisa ditonton di YOUTUBE  https://www.youtube.com/watch?v=sUjMJ5Lafeo). dan masih banyak lainnya. Jika, kita mencari diYOUTUBE dengan kata kunci Film TKI Banyumasan maka akan ditemukan 1.470 film dan jika hanya dengan kata kunci Banyumasan ngapak maka akan ditemukan 13.800 film[5]. Mereka potensi dengan kreatifitas tinggi dan sangat luar bisa.

Performa belum optimal

Dalam pengelolaan tata pemerintahan, Kabupaten banyumas telah banyak meraih penghargaan dari pemerintah pusat. Ini tentunya menunjukan pencapaian kinerjanya. Beberapa penghargaan yang cukup bergengsi antara lain Indonesia Digital Society Award (IDSA) Kementerian Dalam Negeri, Manggala Karya Kencana[6], Anugrah Dana Rakca, Opini WTP selama 5 Tahun[7] Adipura selama 3 tahun[8] dan Anugrah Wahana Tata Nugraha (WTN) Penuh 2016 yang artinya  penghargaan 6 kali berturut-turut[9], tahun 2011 & 2012 meraih Plakat WTN, 2013 & 2014 meraih Piala WTN kategori Lalu Lintas, 2015 & 2016 merai Piala WTN kategori Lalu Lintas dan WTN kategori Angkutan. Pemerintah Kabupaten Banyumas sukses menata angkutan perkotaan di Purwokerto sebagai Kota Banyumas. Banyumas masuk 5 angkutan kota terbaik di Indonesia.

Dalam bidang pembangunan manusia dilingkungan ex-Karesidenan Banyumasan, Kabupaten Banyumas menempati peringkat pertama di antara kabupaten lainnya dengan indeks 69.89, tetapi dibawah kota tegal dengan indek 72.96. Jika dilihat dari indeks ini tentunya cukup membanggakan, Tetapi jika dilihat dari pertumbuhan indeks pembangunan manusianya, maka Kabupaten Banyumas dalam kurun waktu 2010-2015 hanya tumbuh 3.02. Capaian ini dibawah kabupaten lainnya Cilacap 3.59, Purbalingga 3.42, Banjarnegara 4.03, Kebumen 3.79, Pemalang 5.06, Tegal 3.90 dan Brebes 3.69. Dan jika dilihat lebih luas lagi dalam lingkup Provinsi Jawa Tengah , maka posisi Kabupaten Banyumas berada di urutan ke 16 dari 35 pemerintah daerah[10].

Kurang optimalnya pembangunan manusia di Kabupaten Banyumas, salah satunya di sebabkan faktor kemampuan daya beli atau kemiskinan. Data Badan Pusat Statistik Jawa Tengah menempatkan pada posisi 28 dari 35 dalam tingkat kemiskinan. Kemiskinan pada tahun 2015 mencapai 17.52 % atau hanya berkurang 2.68% dari tahun 2010. Dalam kinerja penurunan angka kemiskinan, banyumas juga masih tertinggal dari Cilacap 3.72%, Purbalingga 4.88%, Tegal 3.02% dan Brebes 3.22%.

Mengapa dengan potensi yang begitu besar tetapi tingkap pembangunan manusia masih belum optimal ?.  salah satunya disebabkan “penyakit birokrasi” yang sudah sangat umum dan jamak dilakukan oleh berbagai isntansi pemerintah yakni “Business as Usual”, mengerjakan rutinitas dari waktu ke waktu. Jika diibaratkan birokrasi bekerja seperti bialanglala. Seakan bergerak berputar terus, tepi tetap berhenti dan turun pada tempat awal naik. Tidak banyak perubahan. Bahkan ini juga terjadi untuk tingkat nasional, peringkat Indonesia dalam pembangunan manusia dari tahun 1998 – 2015 tidak berbeda jauh yakni diantara 107-111. Ilmuwan dua Albert Einstein bahkan menyebutkan “melakukan sesuatu yang sama terus-menerus namun mengharapkan hasil yang berbeda adalah sebuah kegilaan”.

Sembuh dari Kegilaan dan Memaksimalkan performa

Bagimana Sembuh dari kegilaan ?. Stave jobs memberikan resep yang sangat manjur untuk Sembuh dari kegilaan “innovation is the only way to win”. Menang disini tentunya tidak hanya diartikan dalam sebuah pertandingan dengan orang, daerah, negera lain. Tapi termasuk menang atas diri sendiri atas “kenyamanan” yang dinikmatinya. Kemenangan disini juga Kemenangan bagaimana memberikan peningkatan pelayanan kepada masyarakat secara berkelanjutan. Perubahan adalah kepastian dan sudah menjadi “sunahtullah”. Mari kita refleksi sejenak, mulai dari setetes air mani, segumpal darah, bayi, anak-anak, remaja, dewasa dan tua. Dan dalam Islam diajarkan bahwa “ jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka celaka, jika hari ini sama dengan hari kemarin maka rugi, dan hari ini harus lebih baik dari kemarin”.

Tidak ada jalan lain untuk mewujudkan Banyumas Better, kecuali dengan Inovasi. Pengalaman korea selatan bukan” kroya” dalam berinovasi dituturkan presiden Jokowi pada pembukaan konferensi Nasional Indonesia Berkemajuan 2016.[11] Presiden menceritakan bagaimana kondisi korea selatan pada tahun 50-an,60-an dan 70-an sama dengan Indonesia. Namun pada decade berikutnya korea menjadi raksasa ekonomi dunia dengan GDP yang tinggi. Apa yang bisa petik pelajarannya untuk kita ? Ada dua kunci korea selatan meraih kesuksesan itu yakni keterbukaan dan keberanian berinovasi, sehingga berani berkompetisi dengan negara lainnya.

Korea selatan menjadi salah satu evidence bahwa inovasi adalah kunci Kemenangan. Ini memperkuat hasil evaluasi bank dunia terkait dengan aspek yang mempengaruhi daya saing. Ada Empat aspek yakng dievaluasi yakni sumber daya alam, teknologi, jejaring dan inovasi. Dari hasil evaluasi 150 negara tersebut, bank dunia memperoleh hasil bahwa sumber daya alam hanya 10%, teknologi 20%, Jejaring 25% dan Inovasi 45% persen dalam menciptakan daya saing suatu bangsa. Oleh Karena itu, saat ini negara kita telah menerapkan strategi yang berbeda dalam persaingan dunia dari mengandalkan kunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif.

Satu gerbang pintu telah dibuka untuk mewujudkan better Banyumas dengan diusulkannya menjadi 9 kabupaten/kota kreatif di Jawa Tengah. Ini merupakan peluang dan tantangan untuk Banyumas. Bagaimana dan mengapa saat ini belum optimal ?. Dari berbagai pengalaman kami memfasilitasi dalam mengembangakan inovasi setidaknya ada 6 alasan yakni sulit, mahal, tidak punya ide kreatif, tidak tahu caranya, takut, dan tidak mau repot / malas.

Sulit ! itu merupakan kata pertama yang disebutkan saat diajak berinovasi. Kenapa mereka menjawab sulit ? Ini disebabkan saat mendengar kata inovasi, yang terbanyang dalam benak mereka adalah sesuatu yang baru bukan tiruan, mega proyek, bertehnologi tinggi, rumit dan lainnya. Apakah itu salah ? tentu saja tidak !. Karena yang disebutan tadi merupakan bagian dari inovasi, tetapi inovasi tidak hanya seperti itu. Inovasi menurut TRIZ dilevelkan menjadi 5 yakni invention, Solusi terobosan, Penemuan yang subtantif, Enhancenement dari system yang ada dan improvement sederhana. Dengan menggunakan pemahan TRIS tersebut maka Perbaikan pelayanan dari seorang satpam atau penerima tamu atau penerima telepon juga dapat disebut dengan inovasi.

Tidak tahu caranya !. Hal ini mungkin wajar terjadi, dimana selama menjadi PNS tidak diajarkan untuk kreatif, tapi diajarkan patuh dan mengikuti rutinitas yang telah terjadi. Bahkan untuk intitusi yang telah diberi lebel “inovatif” masih banyak pegawai yang berfikir rutinitas. Dalam hal ini,  Lembaga Adminsitrasi Negara telah mengembangkan metode berinovasi dengan tehnik 5 D (Drum up, Diagnose, Design, Deliver dan Display). Dengan menggunakan metode ini yang diterapkan dalam program Laboratorium Inovasi selama 3 tahun terakhir di 16 pemerintah daerah telah menghasilkan 1.840 ide gagasan inovasi.

Takut !. Dari berbagai forum pengembangan inovasi, aparatur takut berinovasi Karena pengalaman beberapa kepala daerah atau aparatur lainnya yang berakhir di hotel prodeo. Namun, menurut bapak imanuddin asisten deputi menpan menyampaikan bahwa “tidak ada kepala daerah atau aparatur di penjara Karena inovasi, mereka dipenjara Karena melakukan penyimpangan/korupsi”. Apalagi saat ini, pemerintah daerah telah dijamin oleh UU No. 23 tahun 2014 tentang pemerintah daerah yang salah satunya bab-nya mengatur tentang inovasi daerah. Instruksi Presiden dalam berbagai forum untuk “keluar dari business as usual dan Berorientasi pada hasil”. Jadi apalagi yang ditakutkan ?

Mahal !. Jika inovasi didefinisikan sesuatu yang baru, mega proyek, tehnologi tinggi, maka mungkin pendapat itu benar. Inovasi selalu membutuhkan anggaran mungkin juga benar. Tapi pengalaman dalam memfasilitasi inovasi di pemerintah daerah lebih dari 50 % inovasi tidak membutuhkan anggaran khusus. Artinya kita dapat berinovasi tanpa mengeluarkan anggaran.

Gak Mau Repot !. untuk yang satu ini belum ada solusi yang diciptakan oleh pusat INTAN-LAN. Tapi dari pengalaman kami, beberapa pemda membuat komitment tinggi antara kepala daerah dan kepala organisasi perangkat daerah.  Bahkan Bupati kebumen menyatakan “ Jika inovasi yang telah di tuangkan dalam PErjanjian Kinerja Inovasi tidak tercapai, maka dipersilahkan mengundurkan diri atau di undurkan”.

Inovasi itu mudah, jika tahu caranya. (SAWK Intan)

Referensi

[1] http://www.kanalinfo.web.id/2016/10/pengertian-egaliter.html

[2] http://salambisnis.com/entrepreneur-harus-mempunyai-hubungan-egaliter-pada-lingkungan-bisnisnya/

[3] https://banyumaskab.bps.go.id/#accordion-daftar-subjek2

[4] https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Banyumas

[5] https://www.youtube.com/results?search_query=banyumasan+ngapak+

[6] http://bupati.banyumaskab.go.id/read/19553/bupati-banyumas-terima-penghargaan-manggala-karya-kencana#.WPleaYiGPIU

[7] https://www.bangsaonline.com/berita/29159/pemkab-banyumas-raih-penghargaan-dana-rakca-2016

[8] http://berita.suaramerdeka.com/tiga-kali-banyumas-raih-piala-adipura/

[9] http://banyumasnews.com/92641/banyumas-terima-penghargaan-wahana-tata-nugraha-ke-6/

[10] https://jateng.bps.go.id/Subjek/view/id/26#subjekViewTab3|accordion-daftar-subjek1

[11] https://www.youtube.com/watch?v=ebz-j0iUTuc

INOVASI, MENANG & HIDUP ( Menjadi Pemenang atau Pecundang)

Dalam era persaingan yang semakin keras, “setiap petarung” baik secara individu, kelompok atau organisasi berusaha untuk menjadi “pemenangnya”. Dan di era digital yang tidak terbatas ruang dan waktu, inovasi menjadi “mantra dan senjata”yang sangat ampuh untuk mengalahkan para kompetitornya, secara individu, bisnis maupun negara. Inovator-inovator paling hit antara lain Steve Jobs pendiri Apple, Mark Zuckerberg pendiri facebook dan Tirto Utomo pendiri Aqua Indoensia dan masih bayak lagi. Secara individu maupun corporate, mereka telah menjadi pemenang dan penguasa didunianya masing-masing.
Tidak dapat berinovasi artinya kalah dan mati. Untuk hal ini sebaiknya kita bisa melihat danmenyaksikan bagaimana persaingan dan pertempuran para perusahaan multinasional. Sebagai contoh Perusahaan Multinasional dengan Brand ”Kodak”, pada era sebelum tahun 1990-an, Kodak menguasai pasar dunia bahkan sampai 90%. Sehingga akhirnya Kodak mampu merubah Bahasa “kamera adalah Kodak”. Namun pada awak 1990-an menjadi awal keruntuhan Kodak dengan lahirnya fotografi dan printer digital, dan sampai akhirnya perusahaan yang didirikan George Eastman yang telah berdiri tegak selama 120 harus tumbang dan bangkrut. Contoh lainnya, kita tentunya masih ingat pada era 90-an awalnya masuknya handphone masuk Indonesia, Nokia menjadi raja dan bahkan para pengguna merasa belum menggunakan handphone kalau bukan nokia. Nasibnya hampir sama dengan Kodak, Nokia harus tumbang setelah muncul Blackberry dengan senjata Blackberry Massager atau sering dikenal dengan BBM. Dan sudah menjadi sunatullah mulai awal tahun 2012, Bleckbarry mulai digantikan oleh Android dan iOS dengan berbagai inovasinya yang lebih dasyat.
Dalam kontek Negara, Persaingan yang dilakukan individu dan corporate sangat berpengaruh pada competititifness negara tersebut. Ini bisa dilihat pergeseran kiblat inovasi yang dihasilkan individu maupun corporate, mulai dari Amerika dan Eropa bergeser ke Jepang, beralih ke Korea Selatan, Cina dan seterusnya. Intinya, pemenang dalam persaingan tersebut adalah mereka yang mampu selalu mampu menciptakan produk baru, berkualitas dan ekonomis atau berinovasi. Sedangkan pecundang adalah mereka yang menjadi follower atau pengekor serta menjadi tempat pemasaran produk. ( Veteran 10, 01042014 )

MIMPI INDONESIA RAKSASA BRAHALA

Efek politik pemilihan presiden sampai saat ini masih terasa. Setidaknya ini dapat kita lihat dalam berbagai media online. Polarisasi pendapat masyarakat begitu tampak nyata, ini dapat dilihat  dalam berbagai forum perdebatan baik secara konfensional atau elektronik, bahkan jika dilihat dari berbagai media social seperti facebook, tweeter dan lainnya. Ada sebagian besar optimis dengan perkembangan pembangunan saat ini semakin kearah yag lebih baik dan sebagian kecil berpandangan sebaliknya, Indonesia kembali terjebak olah hutang, kepentingan asing dan diangkap tidak memperhatikan kepentingan masyarakat secara maksinal.

Pandangan positif yang saat ini menjadi sorotan dan viral di media sosial adalah Indonesia 2030 akan menjadi 7 raksasa ekonomi dunia, dan Indonesia 2050 menempati 4 besar dunia setelah China, India, dan Amerika. Bila mendengar kata raksasa, yang tergambarkan adalah mahluk yang besar dan menyeramkan dengan sifat negatifnya. Dan setidaknya itulah yang saya perhatikan dari negara-negara yang konon menjadi raksasa ekonomi dunia, mereka begitu menyeramkan dalam menguasai sumber-sumber ekonomi dunia untuk kepentingan mereka sendiri.

Namun dalam mimpi Indonesia raksasa brahala, Karena raksasa ini merupakan perubahan wujud dari tokoh pewayangan yang positif seperti kresna, prabu sri harjuna sasrabahu[1]. Sehingga, jika terwujud Indonesia menjadi raksasa ekonomi dunia, maka menjadi raksasa brahala yang baik.

Ramalan Indonesia menjadi raksasa ekonomi dunia ditarotkan oleh beberapa lembaga dunia seperti Morgan Stanley, dbs, McKinsey Pricewaterhouse Coopers. Beberapa indikator yang diproyeksikan meliputi  jumlah penduduk besar,kaya sumber daya alam, pertumbuhan inovasi teknologi yang pesat, keamanan yang stabil, ekonomi asia timur dan ASEAN yang terintegrasi, pertumbuhan kelas menengah, kesadaran go green, meningkatnya motivasi untuk peningkatan pendapatan.[2]

Jika dilihat dari salah satunya indikator saja, jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2030 yang mencapai 40% dari penduduk ASEAN[3]. Selain itu, bonus demografi juga menjadi faktor yang sangat menentukan, dimana sebagaian besar penduduk dalam usia poduktif dibandingkan dengan negara lainnya. Selain sebagai peluang sebagai pasar yang besar, dengan jumlah penduduk usia produktif, Indonesia juga seharusnya sebagai produsen terbesar.

Dengan segala potensi dan suber daya yang telah dimiliki Indonesia, tranformasi berubahan wujud menjadi raksasa brahala ekonomi dunia bukanlah hal yang mudah. Indonesia harus melakukan ritual menghilangkan kutukan. Kutukan itu bernama “middle in trap” yang berlangsung selama 29 tahun[4]. Kutukan itu disebabkan beberapa faktor antara lain faktor rendahnya dukungan infrastruktur, ketidakberdayaan membangun kemandirian pangan serta perlindungan social, Sumber Daya Manusia (SDM), birokrasi, dan supremasi hukum yang juga menjadi faktor penentu.[5]

Saat ini pendapatan perkapita Indonesia hanya Indonesia USD 3.605,1[6], sedangkan untuk menjadi negara berpenghasilan tinggi apabila menembus angka USD 20.000[7]. Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi rata-rata minimal 10 persen per tahun selama kurun waktu 2016-2030[8]. Dan ini seakan hanya menjadi mimpi diatas mimpi, Karena pada periode 2016-2020, BI memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia ada di 5,36 persen, lalu naik ke 6,86 persen di 2021-2025, dan menjadi 9,18 persen di 2026-2030[9]

Menjelma menjadi raksasa ekonomi bukan hanya miliki Indonesia, negara tetangga juga memiliki ambisi yang sama. Data Global Competitiveness Index 2016, menempatkan Indonesia pada peringkat 37atau turun 4 peringat.  Dalam lingkungan ASEAN saja, Indonesia masih dibawah Thailand, Malaysia, Singapura. Hal ini salah satunya disebabkan indek kemudahan berbisnis yang juga masih belum kompetitif dengan mereka.

Jika dihitung dengan deret ukur maka untuk mencapai USD 20 ribu atau ada yang mengitung USD 12 ribu, maka dibutuhkan 333.333% sampai dengan tahun 2030. Jika pertumbuhan rata-tara minimal dan target yang telah ditetapkan dibawah 10% maka akan menjadi kemustahilan untuk mentransformasi menjadi raksasa ekonomi dunia.

Namun saat ini kita perlu bersyukur, mestipun terlihat seperti kemustahilan, tapi dengan rasa optimis dan prinsip kerja kerja dan kerja, memberikan harapan optimis memiliki kemajuan. Sri Mulyani, Menteri keuangan menyampaikan “Pemerintah terus melakukan upaya untuk membuat potensi negara ini terealisasi. Tapi kami juga menghadapi berbagai tantangan,” [10] Morgan Stanley meramalkan sumbangan pertumbuhan ekonomi  90% dari luar pulau jawa. Ini menunjukan pembangunan yang merata di Indonesia. Jika, diperhatikan saat ini pembangunan infrastruktur yang relative merata. Di masa pemerintahan Presiden Jokowi saat ini sudah sangat gencar melakukan pembangunan infrastruktur transportasi seperti pelabuhan laut, rel kereta, jaringan jalan hingga bandara.[11]

Tranformasi penjelmaan Indonesia menjadi raksasa ekonomi dunia, tentunya tidak hanya tanggung jawab para pemimpin negeri ini atau bahkan pemerintah. Seluruh unsur negara memiliki kewajiban yang sama. Tidak hanya lembaga negara, masyarakat juga memiliki tanggung jawab yang sama terutama penduduk dengan pendapatan . Tabungan / simpanan penduduk pendapatan menengah dapat dimanfaatkan sebagai modal produksi dan tidak hanya pasif, maka akan menggerakkan ekonomi lebih cepat. Dan akan menjadi lompatan lompatan yang tak terduga jika produksi tersebut memiliki kandungan inovasi. Mimpi Indonesia Raksasa Brahala Ekonomi Dunia bukan hanya sekedar mimpi jika setiap kita ikut bergerak dan berkontribusi. (SAWK Intan)

[1] https://www.plengdut.com/raksasa-dalam-pewayangan/649/

[2] https://www.dbs.com/insights/id/young-economist/meraih-peluang-indonesia-di-2030.html

[3] http://www.gudpost.com/2016/03/inilah-alasan-kenapa-indonesia-akan.html

[4] http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20170209135244-78-192336/indonesia-jadi-raksasa-ekonomi-terbesar-ke-4-dunia-pada-2050/

[5] http://www.kemenkeu.go.id/Artikel/indonesia-dalam-bayang-bayang-middle-income-trap

[6] http://setkab.go.id/pendapatan-per-kapita-rp-4796-juta-ekonomi-indonesia-2016-tumbuh-502-persen/

[7] http://economy.okezone.com/read/2013/08/21/279/852942/middle-income-trap

[8] http://www.beritasatu.com/makro/402867-keluar-dari-middle-income-trap-ekonomi-harus-tumbuh-7.html

[9] http://www.beritasatu.com/makro/402867-keluar-dari-middle-income-trap-ekonomi-harus-tumbuh-7.html

[10] https://m.tempo.co/read/news/2017/03/14/087855767/pejabat-tak-laporkan-harta-sri-mulyani-tak-usah-dipromosikan

[11] http://www.gudpost.com/2016/03/inilah-alasan-kenapa-indonesia-akan.html

EKOSOVAS BIROKRASI

Ekosistem adalah sebuah keharmonisan. Alam semesta ini diciptakan tuhan dengan keteraturan dan keharmonisan total. Allah SWT berfirman dalam QS. Al Mulk. 3 yang ditafsirkan bahwa “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang ?”

Ekosovas merupakan akronim dari ekosistem inovasi. Secara etimologi berasal dari dua kata yakni Ekosistem dan Inovasi. Ekosistem didefinisikan dalam kamus besar Bahasa Indonesia sebagai  1 keanekaragaman suatu komunitas dan lingkungannya yang berfungsi sebagai suatu satuan ekologi dalam alam; 2 komunitas organik yang terdiri atas tumbuhan dan hewan, bersama habitatnya; 3 keadaan khusus tempat komunitas suatu organisme hidup dan komponen organisme tidak hidup dari suatu lingkungan yang saling berinteraksi. Dari Pengertian tersebut dipahami bahwa ekosistem merupakan hubungan yang seimbang antara komponen mahluk hidup dan mahluk tidak hidup. Inovasi adalah 1. pemasukan atau pengenalan hal-hal yang baru; pembaharuan: 2 penemu-an baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya (gagasan, metode, atau alat). Merujuk pada Pengertian tersebut, maka ekosovas merupakan suatu hubungan yang harmonis dari seluruh komponen dalam melahirkan dan mengimplemntasikan kebaharuan gagasan, metode, produk dan lainnya. Kompomen tersebut antara lain sumber daya manusia, kebijakan, tatakelola, penelitian dan pengembangan, budaya, dan sumber daya lainnya.

Ekosovas dalam lingkungan birokrasi saat ini semakin membaik. Setidaknya hal tersebut dapat dilihat dari beberapa indicator seperti komitment pimpinan, kebijakan negara, pengembangakan kapasitas aparatur.

Komitmen presiden selaku pimpinan tertinggi dalam birokrasi telah memberikan arahannya dalam berbagai momen agenda kenegaraan bahwa ” kita semua coba keluar rutinitas business as usual, monoton, sekali lagi agar kita membawa tradisi-tradisi baru, pola baru, cara baru” dan “Semuanya harus berani membalikkan bahwa orientasi kita bukan prosedur tapi hasil. Prosedur itu mengikuti. Ini harus dibalik total. Semuanya harus pada orientasi hasil, bukan prosedur,“ Komitmen ini tentunya tidak hanya sebatas arahan tetapi juga dengan berbagai tindakan. Salah satu contoh yang sangat menarik adalah pengurangan waktu dwelling time di pelabuhan tanjung priuk, penyesuaian harga BBM pada saat harga minyak pada level terendah, dan trobosan lainnya dalam membangun infrastruktur. Komitmen ini tentunya tidak hanya oleh presiden tetapi juga oleh beberapa pembantunya dan kepala daerah seperti Susi Pudjiastuti Menteri Kelautan dan Perikanan, Basuki Tjahaja Purnama Gubernur Daerah Istimewa Jakarta, Ridwan Kamil Walikota Bandung, dan lain sebagainya.

Untuk urusan kebijakan juga telah cukup menjamin aparatur sipil negara untuk berinovasi. Strategi indonesia dalam upaya memenangkan persaingan telah berubah dari bermodal keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif. Undang-undang (UU) No. 23 Tahun 2014 tentang pemerintahan daerah yang  secara jelas tertuang dalam pasal 386 yang mengamanatkan bahwa Dalam rangka peningkatan kinerja penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, Pemerintah Daerah dapat melakukan Inovasi. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi terkait dengan inovasi pelayaan publik. Dan semoga dalam waktu yang tidak lama lagi akan lahir peraturan pemerintah yang mengatur tentang inovasi daerah untuk lebih menjamin ASN dalam berinovasi.

Dalam berbagai asistensi dan fasilitasi pengembangan inovasi dipemerintah daerah, beberapa peserta menyampaikan ketakutannya untuk membuat trobosan / inovasi. Ini tentunya tidak terlepas dari beberapa kasus yang menimpa “pejabat daerah / ASN yang beinovasi”yang berakhir di hotel prodeo. Namun jika dicermati secara seksama, tidak ada pejabat / ASN dipenjarakan Karena melakukan inovasi. Mereka yang berujung pada penjara hampir seluruhnya terkait dengan penyalahgunaan wewenang atau korupsi. Dan, jika inovasi tetap menggunakan prinsip-prinsip dalam UU 23 tahun 2014 Pasal 387 yang meliputi peningkatan efisiensi; perbaikan efektivitas; perbaikan kualitas pelayanan; tidak ada konflik kepentingan; berorientasi kepada kepentingan umum; dilakukan secara terbuka; memenuhi nilai-nilai kepatutan; dan
dapat dipertanggungjawabkan hasilnya tidak untuk kepentingan diri sendiri.

Dalam pengembangan kapasitas inovasi ASN, saat ini Lembaga Adminsitrasi Negara juga telah dan sedang terus mengembangkan berbagai metode dalam berinovasi dilingkungan instansi pemerintah. Komitmen LAN pertama ditunjukan dengan meng-inovasikan dirinya sendiri. Perampingan struktur dari lima deputi menjadi tiga deputi, pembentukan Deputi yang khusus bertugas mengembangkan inovasi adminsitrasi negara, perubahan secara radikal pola  Pendidikan dan pelatihan pimpinan tingkat I, II, III dan IV dan mewajibkan untuk setiap peserta didiknya membuat inovasi / proyek perubahan, pembuatan organsiasi berinovasi dalam program laboratorium inovasi dengan metode 5D (Drum up, Diagnose, Disign, Deliver dan Display), street level innovation, pengembangan system inovasi administrasi negara / pemerintah daerah.

Ekosovas Birokrasi yang semakin harmonis menjadi tantangan bagi setiap ASN untuk semakin berlomba-lomba dalam melahirkan trobosan-trobosan baru dalam mewujudkan world class bureaucracy. Waktunya berinovasi dan berinovasi terus berinovasi. (SAWK Intan)

REPLIKASI JUGA BOLEH

Ribuan Inovasi ASN belum cukup

Indonesia menjadi salah satu ladang yang sangat subur untuk tumbuhnya inovasi-inovasi baru. Global Innovation Index tahun 2016 menmpatkan Indonesia pada peringkat 88 atau meningkat 9 peringakt dari tahun sebelumnya. Jika kita sejenak mencermati, saat ini banyak sekali muncul startup bisnis yang dimotori anak muda. Bahkan muncul Gerakan Nasional 1000 Startup Digital yang merupakan gerakan untuk mewujudkan Indonesia menjadi The Digital Energy of Asia 2020. Bahkan beberapa inovasi sempat membuat kehebohan di masyarakat contohnya GoJek (Ojek Online) yang didirikan oleh Nadim Makarim, Traveloka yang didirikan oleh Ferry Unardi, MalesBangetDotCom yang didirikan oleh Cristian Sugiono, Kaskus yang didirikan oleh Ken Dean Hadiwinata dan Andrew Darwis, Bukalapak yang dirikan Achmad Zaky, dll. Namun selain inovasi digital, anak muda juga banyak melahirkan inovasi baru seperti Lampu seumur hidup temuan mahasiswa Brawijawa, Lemari Es tampa listrik temuan siswa SD Al Azhar 14, Alat pendeteksi dini penyakit jantung temuan mahasiswa ITB, dll.

Demam inovasi juga menjalar dikalangan instansi pemerintah, kementerian, lembaga pemerintah non kementerian, pemerintah daerah dan lainnya. Apalagi setelah terbitnya kebijakan dan instruksi presiden tentang inovasi. Presiden kita, Joko Widodo sering kali menyampaikan dalam berbagai forum bahwa “kita semua coba keluar rutinitas business as usual, monoton, sekali lagi agar kita membawa tradisi-tradisi baru, pola baru, cara baru”. “Semuanya harus berani membalikkan bahwa orientasi kita bukan prosedur tapi hasil. Prosedur itu mengikuti. Ini harus dibalik total. Semuanya harus pada orientasi hasil, bukan prosedur,“

Yang wajib memperhatankan hidup dengan inovasi bukan saja sektor swasta yang berkompetisi secara langsung. Organisasi pemerintah juga harus berinovasi untuk memenangkan kompetisi dengan daerah atau negara lainnya.  Sebagai contoh persaingan birokrasi itu nyata dapat kita lihat, Data Daya saing Indonesia tahun 2016 merosot 4 peringkat dari 37 ke 41 dari 138 negara. Index inovasi, kemudahan berbisnis bisa lebih baik, tetapi negara lain juga melakukan hal yang sama, mempersiapkan diri untuk bersaing dan berbagai trobosan dan kerja kerasanya.

Inovasi dilingkungan instansi  pemerintah menunjukan progress yang posisitf. Jika dilihat dari data peserta inovasi pelayanan publik pada tahun 2016 sebanyak 2.476 inovasi, tahun 2015 sebanyak 1.189 inovasi, dan tahun 2014 sebanyak 515 inovasi. Dari data tersebut, maka perkembangan inovasi di rata-tara 100% perahun.  Dan untuk mengakserasi, Deputi Inovasi Administrasi Negara – LAN mendorong inovasi dilingkungan ASN dengan program laoratorium inovasi dan proyek perubahan Diklatpim. Data Fasilitasi dan jumlah inovasi dalam program labolatorium inovasi tahun 2015 – 2016  1.840 ide gagasan inovasi. Dan, untuk inovasi pada proyek perubahan peserta Diklatpim I, II, III dan IV sampai dengan tahun 2016 telah mencapai 13.843 inovasi.

Dengan melihat data tersebut telihat pertumbuhan inovasi dilingkungan pemerintah yang sangat positif. Namun, jika dibandingkan dengan jumlah satuan kerja dilingkungan pemerintah (kementerian/lembaga/daerah) yang hampir mencapai 100 ribu satker, maka jumlah tersebut menjadi sangat kecil. Hal lainnya yang perlu diperhatikan yakni perkembangan dan pertumbuhan inovasi di pemerintah daerah masih didominasi pemerintah daerah indoensia wilayah barat terutama pulau jawa.

“Saya harap Korps Profesi ASN Indonesia menjadi pusat inovasi, tempat lahirnya loncatan kemajuan dalam peningkatan kualitas pelayanan publik. Hilangkan berbagai kendala yang mengurangi produktivitas dan memperlambat laju pembangunan nasional”. Itulah amanat Presiden Joko Widodo dalam acara ulang tahun Korpri Tahun 2016. Artinya ASN diharuskan teruslah melakukan inovasi agar pelayanan publik bisa makin murah, cepat, baik.

Akselerasi dengan Replikasi

Jika mendengat kata inovasi, maka yang terlintas pertama kali adalah baru atau memiliki nilai kebaharuan. Ini juga yang mungkin terlintas di pikiran salah pesertadiskusi terbatas pada kegiatan evaluasi inovasi proyek perubahan diklatpim di kabupaten poso. Dengan muka “galau” , beliau menyampaikan bahwa dengan semakin banyaknya inovasi proyek perubahan diklatpim semakin menyulitkan untuk menemukan ide yang original. Dan, berharap inovasi proyek perubahan dapat menggunakan replikasi.

Sebagian orang beranggapan bahwa replikasi bukanlah inovasi, karena hanya meniru dan tidak memiliki kebaruan. Jika, definisi itu tidak ditempatkan pada konteknya, maka akan benar. Tapi kebaharuan dalam inovasi  juga memiliki prinsip kedisinian / konteknya. Sehingga, boleh jadi inovasi terentu di daerah / lokus tertentu sudah lama terjadi dan sudah menjadi rutinitas, tapi bisa jadi inovasi tersebut di daerah lainnya merupakan sesuatu yang baru.

Mestipun replikasi juga dapat dikatakan sebagai inovasi, tapi replikasi sering dianggap sebagai level inovasi terendah. Tehnik ini dianggap paling mudah dilakukan untuk berinovasi. Oleh karena itu, replikasi sangat strategis dalam mengakselerasi inovasi pelayanan publik. Dalam PermenPANRB No. 31 Tahun 2014 Tentang Pedoman Inovasi Pelayanan Publik dalam lampirannya BAB III Sub A Nomor 8 menjelaskan tahapan transfer / replikasi. Dalam Tahap Replikasi yang diatur Permenpan meliputi 4 tahap meliputi Tahap 1: Mempertemukan Permintaan dan Persediaan an tara Instansi Asal dan Instansi Penerima Transfer Inovasi. Tahap 2: Menentukan Ruang Lingkup, Merancang Metode dan Menyusun Rencana Kerja Transfer. Tahap 3: Melakukan Adaptasi lnovasi ke Dalam Lingkungan Instansi Penerima. Tahap 4: Melaksanakan dan Mengevaluasi Transfer.

Mestipun replikasi dianggap paling mudah dan telah dituangkan dalam aturan PermenPANRB, tapi masih sangat sedikit yang melakukan replikasi inovasi. Ini tentunya, menjadi pekerjaan rumah kita semua untuk menciptakan metode replikasi yang efektif untuk menjamurkan inovasi-inovasi yang telah ada. (SAWK Intan)