RSS

EFEKTIFITAS KADER POSYANDU TINGKAT KECAMATAN DI KOTA PADANG TAHUN 2008 : Suripto[1]

31 Mar

Posyandu merupakan cermin kesadaran dan peran serta masyrakat dalam meningkatkan dan mendekatkan pelayanan kesehatan di maysarakat. Sedangkan Kader posyandu merupakan merupakan jantung suksesnya pelaksnaan kegiatan posyandu. Bagaimana efektifitas dan efisiensi peran kader posyandu di kota padang ? Upaya untuk menjawab hal tesebut maka digunakan analalis menggunakan Data Envelopment Analysis (DEA). Hasil analisa dengan DEA maka disimpulkan 5 kecamatan efisien dan 6 kecamatan belum efisien.

Kata Kunci : Posyandu, Efisien, Kader dan Kecamatan

Pendahuluan

Meningkatnya akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan masyarakat yang ditandai oleh meningkatnya angka harapan hidup, menurunnya tingkat kematian bayi dan kematian ibu melahirkan, dan perbaikan status gizi[2]. Untuk mencapai hal tersebut tentunya dibutuhkan peran serta dari berbagi pihak seperti pemerintah pusat, pemerintah daerah,  masyarkat dan semua lembaga formal maupun non formal yang perhatian terhadap permasalahan kesehatan.

Upaya pemerintah dalam meningkatkan pengelolaan posyandu di tunjukan dengan menerbitkan berbagai kebijakan seperti :

1)      Tim Lintas Sektoral: TP PKK Pusat, Ditjen PMD-Depdagri, Ditjen Binkesmas-Depkes, PPKM-Depkes, Ditjen Diklusepora-Depdikbud, BKKBN, dan Unicef. Panduan Pelatihan Kader Posyandu. Jakarta, 1999

2)      SE Mendagri 411.3/2001 tentang Pedoman Umum Revitalisasi Posyandu

3)      Ditjen PMD Depdagri, Pedoman Umum Manajemen Pokjanal Posyandu, 2004

4)      Departemen Kesehatan RI, Pedoman Umum Pengelolaan Posyandu, Jakarta, 2006

5)      Permendagri 54/2007 tentang Pedoman Pembentukan Pokjanal Pembinaan Posyandu

6)      Peraturan daerah provinsi, kabupaten atau kota sebagai implementasi kebijkan pemerintah pusat

Posyandu sebagai organsiasi pemberdayaan masyarakat memiliki peran yang sangat strategis dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.  Hal ini terlihat dari tujuan penyelenggaraan posyandu antara lain menurunkan angka kematian bayi, angka kematian ibu, membudayakan norma keluarga kecil bahagia sejaktera, meningkatkan peran serta dan kemampuan masyarakat untuk kegiatan kesehatan dan keluarga berencana, dan sebagai gerakan reproduksi keluarga sejahtera, gerakan ketahanan pangan dan ekonomi keluarga.  Sehingga dengan melihat dari tujuan penyelenggaran tesebut maka posyandu dapat dikatakan sebagai ujung tombak dalam menciptakan kualitas sumber daya manusia sejak dini.

Dari lihat sisi organisasi, posyandu merupakan  lembaga pemberdayaan masyarakat yang dibentuk dan dikembangkan  atas kesadaran masyarakat. Sehingga, Posyandu merupakan organisasi yang dibentuk dari masyarakat, dikembangkan oleh masyakat dan untuk kepentingan masyarakat. Dengan demikian, posyandu memiliki potensi membangun masyarakat yang mandiri, sehingga diperlukan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat. Olah karena itu, meningkatkan peran serta masyarakat telah dilakukan pembinaan oleh pemerintah secara berjenjang mulai dari provinsi, kabupaten/kota, kecamatan dan kelurahan.

Unsur terpenting dalam penyelenggaraan posyandu adalah peran kader. Kader memiliki dua peran utama yakni peranan kader saat posyandu dan peranan kader diluar posyandu. Peranan kader pada saat Posyandu meliputi kegiatan  pendaftaran, penimbangan bayi dan balita, pencatatan hasil penimbangan, penyuluhan dan membantu pelayanan. Sedangkan peranan Kader diluar Posyandu meliputi  kegiatan penunjang pelayanan KB, KIA, Imunisasi, Gizi dan penanggulangan diare. mengajak ibu-ibu untuk datang para hari kegiatan Posyandu dan penunjang upanya kesehatan lainnya yang sesuai dengan permasalahan antara lain pemberantasan penyakit menular, penyehatan rumah, dll.

Saat ini muncul gejala penurunan peran masyarakat dalam posyandu. Hal ini ditunjukan dengan kecenderungan penurunan kunjungan masyarakat serta keluarnya kader posyandu.  Berdasarkan fenomena tesebut, penulis tertarik untuk melihat efektifitas  kader posyandu di Kota Padang yang dilihat dari sudut tingakat efisiensi kader di tingkat kecamatan dengan membandingkan jumlah kader, jumlah posyandu dan jumlah kelurahan. Hal ini menarik karena kecamatan merupakan lapis ke empat dalam pembinaan posyandu di lingkungan kecamatan. Berikut daftar kader posyandu pada setiap kecamatan pada tahun 2007 di kota padang seperti pada tabel 1.

Tabel 1

Jumlah Kelurahan, Posyandu, Kader Posyandu dan Kelahiran Bayi

Tingakat  Kecamatan di Kota Padang 2007

No Kecamatan Kelurahan Posyandu Kader Kelahiran Hdup
1 Bungus Teluk Kabung 6 38 152 465
2 Lubuk Kilangan 7 41 162 824
3 Lubuk Begalung 15 105 420 2121
4 Padang Selatan 12 85 340 1170
5 Padang Timur 10 88 352 1210
6 Padang Barat 10 69 276 1225
7 Padang Utara 7 83 332 1395
8 Nanggalo 6 8 232 1085
9 Kuranji 9 73 292 2271
10 Pauh 9 70 280 994
11 Koto Tangah 13 135 540 2716

Sumber : BPS Kota Padang 2008

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektifitas dan efisiensi kader posyandu di kecamatan lingkungan kota padang. Kecamatan yang menjadi locus yakni Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Lubuk Kilangan, Lubuk Begalung, Padang Selatan, Padang Timur, Padang Barat, Padang Utara, Nanggalo, Kuranji, Pauh, dan Koto Tangah.

Pengertian

Posyandu adalah salah satu bentuk upaya kesehatan bersumber daya masyarakat yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi[3]. Sedangkan Kader adalah orang yg diharapkan akan memegang peran yg penting dl pemerintahan, partai, dsb.[4] Berdasarkan  tersebut, maka yang dimaksud dengan kader posyandu adalah orang yang memiliki peran dalam pembangunan dan pemberdayaan masyarakat  dalam kesehatan dalam rangka mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Efektifitas pada umumnya diartikan tingkat capaian hasil yang diperoleh. Sedangkan efisien merupakan rasio perbandingan antara output dan input. Menurut Xia (1996) efisiensi mencakup kualitas, hasil, manfaat dan sejenisnya dengan perkecualian kecepatan dan ketepatan waktu[5]. Bendasarkan pada pengertian tersebut, pengertian efektifitas dan efisiensi dapat diartikan sama yakni pencapaian hasil.  Merujuk pada pengertian diatas, Efektifitas Kader posyandu diartikan kebutuhan kader posyandu di kecamatan yang paling  efisien berdasarkan jumlah kelurahan dan jumlah posyandu dikecamatan tersebut.

Alat Analisis

Banyak cara yang dapat digunakan untuk menentukan tingkat efisiensi sesuatu,salah satunya yang paling sederhana yakni dengan langsung membandingkan antara output dan input. Hal ini tentunya akan mudah bila hanya memiliki satu input dan satu output, tetapi akan lebih rumit bila indicator lebih dari satu. Untuk itu dalam analisis ini digunakan alat Data Envelopment Analysis (DEA), dimana DEA dapat digunakan untuk menganalisis efisiensi dengan menggunakan multi indicator. Alasan lainnya Hasil DEA mampu memberikan benchmark (reference set) untuk peningkatan kinerja,  menentukan aspek yang paling efisien dalam organisasi, menunjukan aspek yang harus dikurangi maupun ditambah dan  berapa skala optimum atau yang dihemat. Dengan demikian, penulis dapat memerikan  saran rekomendasi akan yang lebih aplikatif dalam peningkatan efisiensi kader posyandu di Kota Padang.

Indikator Analisis

Pemilihan indikator dalam menggunakan  DEA merupakan hal yang terpenting. Dimana ketepatan pemilihan indicator akan sangat mempengaruhi keakuratan hasil dalam menggambarkan kondisi riil lapangan. Indikator dalam analisa DEA meliputi jumlah kelurahan, jumlah posyandu, jumlah kader posyandu dan jumlah kematian bayi. Definisi indicator sebagai berikut :

1)      Jumlah kelurahan yakni jumlah kelurahan dalam kecamatan pada tahun 2007

2)      Jumlah posyandu yakni jumlah posyandu dalam kecamatan pada tahun 2007

3)      Jumlah kader posyandu yakni jumlah kader posyandu dalam kecamatan pada tahun 2007

4)      Jumlah kelahiran bayi hidup yakni jumlah bayi yang dilahirkan dalam keadaan hidup tingkat kecamatan pada tahun 2007

Analisa DEA dengan model BCC Output

DMUs, Input, dan Output

Data-data yang digunakan dalam analisis DEA efektifitas kader posyandu tingkat kecamatan

di Kota Padang tahun 2007 sebagai berikut :

  • DMUs sebanyak 11 kecamtan
  • Jenis Input sebanyak  3 meliputi :

ü  Input(1) = Kelurahan

ü  Input(2) = Posyandu

ü  Input(3) = Kelahiran Hdup

  • Jenis Output sebanyak  1 yakni  Jumlah Kader

Statistics on Input/Output Data

Dari data tabel 1 di atas, hasil DEA meliputi jumlah maksimal, jumlah minimal, rata-rata dan standar deviasi indicator seperti pada tabel 2.

Tabel 2

Statistics on Input/Output Data

Kelurahan Posyandu Kelahiran Hdup Kader
Max 15 135 2716 540
Min 6 8 465 152
Average 9.45 72.27 1406.91 307.10
SD 2.81 32.79 646.64 105.91

Sumber : Hasil Pengolah DEA

Pada tabel 2 diatas dapat diketahui bahwa jumlah kelurahan paling banyak yakni 15 kelurahan berada di kecamatan Lubuk Begalung dan paling sedikit 6 kelurahan berada di Kecamatan Bungus Teluk Kabung. Jumlah posyandu paling banyak yakni 135 posyandu yang berada di Kecamatan Koto Tengah dan paling sedikit 8 posyandu berada di Kecamatan Nanggalo. Jumlah kelahiran bayi hidup paling banyak 2716 bayi berada di Kecamatan  Koto Tengah dan paling sedikit 465 bayi berada di Kecamatan Bungus Teluk Kabung. Jumlah Kader posyandu paling banyak 540 kader berada di Kecamtan Koto Tengah dan paling sedikit 152 kader berada di Kecamatan Kecamatan Bungus Teluk Kabung.

Correlation

Korelasi, adalah nilai yang menunjukkan kekuatan dan arah hubungan linier antara dua variable / indicator. Hasil perhitungan DEA, Korelasi antar indicator input dan output seperti pada tabel 3.

Tabel 3

Correlation Indikator Input dan Output

Kelurahan Posyandu Kelahiran Hdup Kader
Kelurahan 1 0.82 0.67 0.81
Posyandu 0.82 1 0.74 0.90
Kelahiran Hdup 0.67 0.74 1 0.83
Kader 0.81 0.90 0.83 1

Sumber : Hasil Pengolah DEA

Penafsiran  korelasi statistik  menurut Sugiyono interval 0,00 – 0,199 tingkat hubungan sangat rendah, 0,20 – 0,399 tingkat hubungan rendah,  0,40 – 0,599  tingkat hubungan sedang, 0,60 – 0,799 tingkat hubungan kuat dan 0,80 – 1,000   tingkat hubungan sangat kuat. Merujuk pada penafsiran tersebut, maka tingkat korelasi indicator dapat dikatagorikan kuat dan sangat kuat.

Score dan Rank DMU

Hasil  score  dan  rank analisa DEA, DMU yang efisien dan tidak efisien  seperti pada tabel 4.

Tabel 4

Score, Rank DMUs

No. DMU Score Rank 1/Score
1 Bungus Teluk Kabung 1 1 1
2 Lubuk Kilangan 0.726741 11 1.376005
3 Lubuk Begalung 0.933246 8 1.071529
4 Padang Selatan 0.997416 6 1.002591
5 Padang Timur 1 1 1
6 Padang Barat 0.84361 9 1.185382
7 Padang Utara 1 1 1
8 Nanggalo 1 1 1
9 Kuranji 0.779889 10 1.282233
10 Pauh 0.966235 7 1.034944
11 Koto Tangah 1 1 1

Sedangkan dalam bentuk grafik seperti pada grafik 1.

Grafik 1,

Score  DMUs

Dari hasil pada tabel 4 di atas, maka terlihat bahwa 5 DMU telah efisien dan 6 DMU belum efisien. DMU yang efisien meliputi Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kecamatan Padang Timur, Kecamatan Padang Utara, Kecamatan Naggalo dan Kecamatan Koto Tengah.  Dengan demikian, DMU yang efisien telah relative cukup memiliki kader posyandu dengan dibandingkan pada jumlah kelurahan, posyandu dan kelahiran bayi. Sedangkan yang belum efisien meliputi Kecamatan Padang Selatan, Kecamatan Pauh, Kecamatan Lubuk Begalung, Kecamatan Padang Barat, Kecamatan Kuranji dan Kecamatan Lubuk Kilangan.  Peningkatan efisien DMU yang belum efisien dapat dilakukan dengan meningkatkan indicator output maupun mengurangi inikator input. Referensi  peningkatan efisiensi DMU seperti pada tabel 5.

Tabel 5

Reference set DMUs

No. DMU Reference set (lambda)
1 Lubuk Kilangan Bungus Teluk Kabung, Padang Timur, Nanggalo
2 Lubuk Begalung Padang Timur, Nanggalo, Koto Tangah
3 Padang Selatan Bungus Teluk Kabung, Padang Timur, Nanggalo
4 Padang Barat Padang Timur, Nanggalo, Koto Tangah
5 Kuranji Padang Utara, Nanggalo, Koto Tangah
6 Pauh Bungus Teluk Kabung, Padang Timur, Nanggalo

Indikator Kelurahan

Berdasarkan hasil score DEA, DMUs harus meningkatkan efisiesi dengan mengurangi jumlah kelurahan seperti pada Grafik 2.

Grafik 2

Projention Indikator Kelurahan DMUs belum efektif

Data dan proyeksi jumlah kelurahan seperti pada Grafik 2 dan dapat dibaca sebagai berikut :

v  Kecamatan Lubuk Kilang memiliki jumlah kelurahan sebanyak 7 kelurahan dan berdasarkan perhitungan proyeksi 6,9 kelurahan, sehingga terdapat selisih 0,1 kelurahan, dengan jumlah selisih yang relative kecil maka jumlah kelurahan dapat dikatagorikan relative efisien.

v  Kecamatan Begalung memiliki jumlah kelurahan sebanyak 15 kelurahan dan berdasarkan perhitungan proyeksi jumlah yang efisien yakni 11,25 kelurahan dengan demikian terdapat perbedaan 3,75 kelurahan, dengan demikian untuk mencapai tingkat efisiensi perlu pengurangan 4 kelurahan.

v  Kecamatan Padang Selatan memiliki jumlah kelurahan sebanyak 12 kelurahan dan berdasarkan hasil perhitungan jumlah yang efisien adalah 9,77 kelurahan dengan demikian terdapat perbedaan sebanyak 2,23 kelurahan sehingga perlu pengurangan 2 kelurahan.

v  Kecamatan Padang Barat memiliki jumlah kelurahan sebanyak 10 kelurahan dan berdasarkan hasil perhitungan jumlah yang efisien adalah 9,07 kelurahan dengan demikian terdapat perbedaan sebanyak 0,93 kelurahan atau perlu pengurangan 1 kelurahan.

v  Sedangkan untuk kecamatan Kuranji tetap dan Kecamatan Pauh memiliki perbedaan yang relative kecil maka jumlah kelurahan dapat dikatagorikan relative efisien..

Penulis sadari bahwa untuk mengurangi jumlah kelurahan merupakan perkerjaan yang tidak mudah. Hal tersebut tentunya karena menyangkut banyak aspek dan berbagai hal. Oleh karena itu, untuk meningkatkan efisiensi dalam kader posyandu dapat meningkatkan jumlah posyandu dan kader posyandu.

Indikator Posyandu

Berdasarkan hasil score DEA, DMUs harus meningkatkan efisiesi dengan mengurangi jumlah posyandu seperti pada Grafik 3.

Grafik 3

Projention Indikator Posyandu DMUs belum efektif

Seperti terlihat pada grafik 3, data dan proyeksi jumlah posyandu tingkat kecamatan pada DMUs yang belum efektif telah sesuai. Dengan demikian tidak diperlukan perubahan pada indicator jumlah posyandu.

Indikator Kelahiran Bayi

Berdasarkan hasil score DEA, DMUs harus meningkatkan efisiesi dengan mengurangi jumlah kelahiran bayi seperti pada Grafik 4.

Grafik 4

Projention Indikator Kelahiran Bayi DMUs belum efektif

Seperti terlihat pada grafik 4, hanya terdapat satu DMU yang perlu mengurangi jumlah bayi yakni Kecamatan Kuranji. Data kelahiran bayi menunjukan 2271 sedangkan proyeksi efisien sebesar 1798,3 bayi atau terdapat perbedaan sebesar 472,7 bayi. Dengan demikian untuk mencapai tingkat efisiensi kader posyandu perlu pengurangan angka kelahiran sebesar 473 bayi.

Indikator Jumlah Kader Posyandu

Berdasarkan hasil score DEA, DMUs harus meningkatkan efisiesi dengan peningkatan jumlah kader posyandu seperti pada Grafik 5.

Grafik 5

Projention Indikator Kelahiran Bayi DMUs belum efektif

Data dan proyeksi jumlah kader posyandu seperti pada Grafik 5 dan dapat dibaca sebagai berikut :

v  Kecamatan Lubuk Kilang memiliki jumlah kader posyandu sebanyak 162 kader posyandu dan berdasarkan perhitungan proyeksi dibutuhkan 222,91 kader posyandu, sehingga terdapat perbedaan sebanyak 60,91 kader posyandu. Dengan demikian untuk mencapai efisiensi kader posyandu perlu di tambah sebanyak 61 kader posyandu.

v  Kecamatan Begalung   memiliki jumlah kader posyandu sebanyak 420 kader posyandu dan berdasarkan perhitungan proyeksi dibutuhkan 450 kader posyandu, sehingga terdapat perbedaan sebanyak 30 kader posyandu. Dengan demikian untuk mencapai efisiensi kader posyandu perlu di tambah sebanyak 30 kader posyandu.

v  Kecamatan Padang Selatan  memiliki jumlah kader posyandu sebanyak 340 kader posyandu dan berdasarkan perhitungan proyeksi dibutuhkan 340,88 kader posyandu, sehingga terdapat perbedaan sebanyak 0,88 kader posyandu. Dengan demikian untuk mencapai efisiensi kader posyandu perlu di tambah sebanyak satu kader posyandu.

v  Kecamatan Padang Barat memiliki jumlah kader posyandu sebanyak 276 kader posyandu dan berdasarkan perhitungan proyeksi dibutuhkan 327,17 kader posyandu, sehingga terdapat perbedaan sebanyak 51, 13 kader posyandu. Dengan demikian untuk mencapai efisiensi kader posyandu perlu di tambah sebanyak 51 kader posyandu.

v  kecamatan Kuranji  memiliki jumlah kader posyandu sebanyak 292 kader posyandu dan berdasarkan perhitungan proyeksi dibutuhkan 374,41 kader posyandu, sehingga terdapat perbedaan sebanyak 82,41 kader posyandu. Dengan demikian untuk mencapai efisiensi kader posyandu perlu di tambah sebanyak 82 kader posyandu.

v  Kecamatan Pauh memiliki memiliki jumlah kader posyandu sebanyak 280 kader posyandu dan berdasarkan perhitungan proyeksi dibutuhkan 289 kader posyandu, sehingga terdapat perbedaan sebanyak 9,78 kader posyandu. Dengan demikian untuk mencapai efisiensi kader posyandu perlu di tambah sebanyak 10 kader posyandu.

Berdasarkan data tersebut maka dapat dikatakan, semua DMUs yang belum efisien perlu menambah jumlah kader posyandu.

Penutup

Berdasarkan hasil analisa DEA di atas maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

v  Sebanyak 5 DMUs dinyatakan telah efisien dalam efisiensi kader posyandu

v  Sebanyak 6 DMUs belum efisien dalam efisiensi kader posyandu.

v  Kecamatan Naggalo  dan Kecamatan Padang Timur menjadi referensi DMU paling banyak untuk meningkatkan efisiensi kader posyandu.

Daftar Literatur

  1. Pusat Kajian Kinerja Kelembagaan, Kajian Efisiensi dan Efektivitas Kelembagaan Pemerintah, Jakarta, 2006
  1. Kresno, Sudarti, Laporan Penelitian Study Pemanfaatan Posyandu di Kelurahan Cipiang Muara Kecamatan Jatinegara Kodya Jakarta Timur tahun 2007, Jakarta 2008
  1. Sembiring, Nasap, Posyandu Sebagai Saran Peran Serta Masyarakat Dalam Usaha Peningkatan Kesehatan Masyarakat, Digitized by USU Digital Library, 2004
  1. Darmawan, Ede Surya, Tinjauan Kebijakan Terkait Pengelolaan Posyandu Sebagai Masukan Dalam Perumusan Peran Dan Tanggung Jawab Departemen Kesehatan Dalam Pengelolaan Posyandu. (disampaikan sebagai makalah pembahas dalam Lokakarya Perumusan Peran dan Tanggung Jawab Departemen Kesehatan Dalam Pengelolaan Posyandu di Hotel Sahira Bogor, 23 Maret 2009)
  1. http://www.padang.go.id
  1. http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php
  1. http://dinkesbonebolango.org/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=174
  1. http://id.wikipedia.org/wiki/Korelasi
  1. http://statistik.soetomboz.web.id/index.php?menu_id=12&id=24

[1] Peneliti Pertama Pusat Kajian Kinerja Kelembagaan LAN

[2] Prioritas dan arah kebijakan pembangun kesehatan No. 2 Agenda Pemangunan Nasional 2004 – 2009

[3] Pengertian Departemen Kesehatan Republik Indonesia dalam Laporan Penelitian Study Pemanfaatan Posyandu di Kelurahan Cipiang Muara Kecamatan Jatinegara Kodya Jakarta Timur tahun 2007, Prof. Dr. dra Sudarti Kresno, SKM. MA, 2008

[4] http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php

[5] Kajian Efisiensi dan Efektivitas Kelembagaan Pemerintah, Pusat Kajian Kinerja Kelembagaan, 2006

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 31, 2010 in Uncategorized

 

Tag: ,

2 responses to “EFEKTIFITAS KADER POSYANDU TINGKAT KECAMATAN DI KOTA PADANG TAHUN 2008 : Suripto[1]

  1. Endah Putri Wijaya

    Maret 23, 2011 at 4:10 am

    Saya tertarik dengan makalah ini,saat ini saya sedang menangani proyek sekolah Diklat Kader Smart Posyandu,saya salah satu pengurus Yabimkes Institute,sebuah LSM lokal yang disponsori RSI BANYUBENING berlokasi di Jl.Raya Waduk Cengklik, ngargorejo.dekat dengan bandara Adi Sumarmo Solo.Saya membutuhkan indikator keberhasilan dan saat ini saya belum tahu sedikitpun tentang apa saja isi indikator keberhasilan sekolah posyandu kami.Mohon bila institusi anda mempunyai masukan, saya dibantu. Terimakasih.

     
    • suripto3x

      Maret 23, 2011 at 7:05 am

      Terima kasih mbak Putri atas apresiasinya terhadap artikel tersebut. tentunya saya sangat sedang bila dapat membantu anda. Namun demikian untuk dapat memberikan masukan yang lebih fokus dan terarah tentunya saya membutuhkan informasi yang lebih lengkap. untuk itu mbak putri dapat mengirimkan informasi tersebut (profil sekolah / tor kegiatan atau lainnya.) ke email : suripto3x@rocketmail.com

      Secara umum dan besaran, indikator keberhasilan dapat dilihat dari output, outcome dan benefitnya… tetapi secara rinci saya membutuhkan informasih yang lebih lengkap terkait kegiatannya.

      terima kasih

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: