RSS

EVALUASI BALAI BESAR PELATIHAN KEMENTERIAN PERTANIAN Suripto[1]

31 Mar

Indonesia telah kembali mencapai swasembada beras. Keberhasilan tersebut ditempuh dengan penguatan tiga penguatan antara lain bidang manajemen sumber daya manusia (SDM) pertanian. Balai Besar Pelatihan Pertanian/Kesehatan Hewan (BBPP/BBPKH) sebagai unit kerja dalam pengembangan SDM Pertanian yang memiliki peran sangat strategis dalam penguatan bidang tersebut. Bagaimana tingkat efektifitas dan efisiensi BBPP/BBPKH dalam melaksanakan perannya ? Alat analisis yang digunakan untuk menjawab adalah DEA-BCC-O Solver. Hasil Analisis menunjukan 5 Balai Besar Efisien dan 2 Balai Besar tidak efisien.

Key Word : BPPP, Pertanian, SDM

  1. A. Pendahuluan

Konferensi Menteri Pertanian Internasional ke-2 di Berlin Jerman memberikan pengakuan terhadap keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras kembali pada 2008[2]. Hal ini merupakan prestasi besar bangsa Indoensia dalam menyediakan pangan secara mandiri, dimana sebelumnya dikenal sebagai negara pengimpor beras.  Prestasi ini adalah hasil kerja dari seluruh bangsa Indonesia khususnya Departemen Pertanian sebagai leading sector pertanian. Prestasi tersebut merupakan hasil kerja dari seluruh unit di kementrian pertanian, mulai dari unit struktural maupun teknis fungsional. Unit struktural antara lain Direktorat Jenderal, Direktorat, Sub Direktorat, Seksi, dan lain-lain. Unit kerja teknis fungsional  antara lain unit pelaksana teknis (UPT).

Keberhasilan tersebut menurut Anton Priyantono (Mantan Menteri Pertanian) ditempuh melalui Penguatan Teknologi, Manajemen serta Pemberdayaan Petani[3]. Penguatan manajemen salah satunya dengan pengembangan sumber daya manusia bidang pertanian. Badan Pengembangan Sumber Daya Pertanian (BPSDMP) merupakan unit kerja Departemen Pertanian yang bertanggung jawab dalam bidang pengembangan sumberdaya manusia pertanian. Dalam melaksanakan tugasnya, BPSDMP terbagi dalam 3 pusat dan 1 sekretariat badan. Pusat tersebut meliputi  Pusat Pengembangan Pendidikan Pertanian, Pusat Pengembangan Pelatihan Pertanian, dan Pusat Pengembangan Penyuluhan Pertanian[4]. Selain itu, BPSDMP memiliki UPT meliputi  7 unit Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP), 1 unit Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP), 6 unit Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP), 1 unit Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH), 1 unit Balai Pelatihan Pertanian (BPP) dan 3 unit Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP) Negeri.

Dengan bentuk struktur diatas, Departemen Pertanian menunjukan bahwa SDM pertanian memiliki posisi yang sangat penting. Pengembangan SDM merupakan kegiatan yang paling strategis dalam menghadapi era globalisasi yang sangat kompetitif dan membutuhkan daya saing yang tinggi[5]. Untuk mendapatkan SDM Pertanian dengan daya saing tinggi dan professional maka dibutuhkan lembaga pendidik profesional. Salah satu lahkah yang perlu ditempuh dalam mencapainya adalah melakukan evaluasi organisasi.

Struktur Organisasi BPSDMP memiliki unit kerja yang sangat bervariasi. Sehingga paper ini akan membatasi mengevaluasi UPT Balai Besar Pelatihan dilingkungan Departemen Pertanian yang meliputi BBPP Lembang, BBPKH Cinagara, BBPP Batu, BBPP Ketindan, BBPP Batangkaluku, BBPP Binuang dan BBPP Kupang. Pemilihan UPT tersebut didasarkan antara lain tugas yang diemban BBPP/BBPKH dalam mengembangkan teknik pelatihan teknis, fungsional dan kewirausahaan di bindangnya bagi aparatur dan non aparatur pertanian. Sehingga UPT tersebut memiliki peran yang cukup besar dalam keberhasilan pertanian dimasa depan.

  1. B. Deskripsi  BBPP / BBPKH

Sampai saat ini BPSDMP memiliki 7 BBPP/BBPKH. BBPP Lembang dibentuk melalui Peraturan Menteri Pertanian No.15/Permentan/OT.140/2/2007, BBPKH Cinagara dibetuk melalui Peraturan Menteri Pertanian No.22/Permentan/OT.140/2/2007, BBPP Batu melalui Peraturan Menteri Pertanian No.19/Permentan/OT.140/2/2007, BBPP Ketindan melalui Peraturan Menteri Pertanian No.17/Permentan/OT.140/2/2007, BBPP Batangkaluku melalui Peraturan Menteri Pertanian No.20/Permentan/OT/140/2/2007, BBPP Binuang melalui Peraturan Menteri Pertanian No. 18/Permentan/OT.140/2/2007, dan BBPP Kupang melalui Peraturan Menteri Pertanian No. 18/Permentan/OT.140/2/2007.

Struktur Organisasi BBPP / BBPKH

Berdasarkan Permentan RI Nomor : 15-19/Permentan/OT.140/2/2007, struktur organisasi BBPP / BBPKH terdiri dari yakni Kepala Balai, yakni Bagian Umum, Bidang Program dan Evaluasi, Bidang Penyelenggaraan Pelatihan, yakni Subbagian Kepegawaian dan Rumah Tangga, Subbagian Keuangan, Subbagian Perlengkapan dan Instalasi, Seksi Program dan Kerjasama,  Seksi Evaluasi dan Pelaporan, Seksi Pelatihan Aparatur, Seksi Pelatihan Non aparatur, dan Kelompok Jabatan Fungsional. Jabatan Kepala Bagian/Bidang adalah Eselon III,  Subbagian/Seksi adalah Eselon IV, sedangkan kelompok jabatan fungsional terdiri dari widyaiswara. Susunan Struktur organisasi seperti pada gambar 1.

Gambar 1

Struktur Organisasi BBPP/BBPKH

Tugas dan Fungsi BBPP/BBPKH

BBPP/BBPKH mempunyai tugas melaksanakan dan mengembangkan teknik pelatihan teknis, fungsional dan kewirausahaan di bidang pertanian, peternakan dan kesehatan hewan bagi aparatur dan non aparatur pertanian. Dalam melaksanakan tugas tersebut, BBPP/BBPKH menyelengggarakan fungsi yang meliputi :

  1. Penyusunan rencana, program dan pelaksanaan kerjasama;
  2. Pelaksanaan pemantauan, evaluasi dan pelaporan;
  3. Pelaksanaan pelatihan teknis di bidang pertanian, peternakan dan kesehatan hewan bagi aparatur dan non aparatur pertanian;
  4. Pelaksanaan pelatihan fungsional  di bidang pertanian, peternakan dan kesehatan hewan bagi aparatur pertanian;
  5. Pelaksanaan pelatihan kewirausahaan  di bidang pertanian, peternakan dan kesehatan hewan bagi non aparatur pertanian;
  6. Pelaksanaan pengembangan teknik pelatihan di bidang ternak potong dan teknologi lahan kering;
  7. Pelaksanaan pengembangan teknik pelatihan pertanian, peternakan dan kesehatan hewan bagi aparatur dan non aparatur pertanian;
  8. Penyusunan bahan Standar Kompetensi Kerja (SKK) pelatihan teknis, fungsional dan kewirausahaan di bidang peternakan;
  9. Pelaksanaan penyusunan paket pembelajaran dan media pelatihan teknis, fungsional dan kewirausahaan di bidang peternakan;

10.  Pelaksanaan pemberian konsultasi agribisnis;

11.  Pemberian pelayanan pelaksanaan dan pengembangan teknik pelatihan teknis, fungsional dan kewirausahaan di bidang pertanian, peternakan dan kesehatan hewan bagi aparaturdan non aparatur pertanian;

12.  Pengelolaan urusan tata usaha dan rumah tangga BBPP / BBPKH.

Sarana dan Prasarana BBPP / BBPKH

Sarana dan Prasarana BBPP/BBPKH dalam  menunjang pelaksanaan tugasnya setiap Balai Besar seperti pada tabel 1.

Tabel 1

Sarana dan Prasarana BBPP/BBPKH

BALAI BBPP Lembang BBPKH Cinagara BBPP Batu BBPP Ketindan BBPP Batangkaluku BBPP Kupang BBPP Binuang
Kendaraan Roda-2 49 3 6 82 59 6 150
Kendaraan Roda-3 0 0 1 0 7 0 0
Kendaraan Roda-4 8 10 8 4 4 6 6
Kendaraan Roda-6 1 0 2 0 8 0 0
Rumah Dinas 27 21 11 13 42 15 15
Asrama/Kamar/Unit 62 5/38 65 5 4 49 4
Aula 2 2 1 1 2 2 1
Guest House 3 4 4 3 3 2
Gudang 3 1 1 1 1
Bengkel Kerja 1 1 1 1
Ruang Karantina 1
Laboratorium 2 3 4 3 5 2 2
Pustaka 1 1 1 1 1 1 1
Kelas 5 2 2 4 6 2 2
Tempat Ibadah 2 1 1 1 1
Rumah Jaga 2 2 2 2 2 1 1
Rumah Kaca/Green House 1 2 2 1
Museum mini 1
Poliklinik 1
Saung Tani/Meeting 1
Screen House 6 2 1
Rumah Kompos 1
Garasi 1
Ruang Pengolahan Hasil
Olahraga
Lantai jemur
Kandang
Rumah Genset
Dapur Ruang Makan
Ruang makan 2
Tempat Parkir
Distance Learning
Bak Air 1
Rumah Pendingin 1

Sumber : Departemen Pertanian, Badan Pengembangan SDM Pertanian Dalam Angka 2008, Jakarta 2009

Anggaran BBPP / BBPKH

Jumlah Anggaran BBPP / BBPKH pada tahun anggaran 2008 seperti pada grafik 1.

Sumber : Departemen Pertanian, Badan Pengembangan SDM Pertanian Dalam Angka 2008, Jakarta 2009

Grafik 1

Anggaran BBPP/BBPKH T.A. 2008

Sumber Daya Manusia

Sumber Daya Manusia yang mendukung BBPP / BBPKH terdiri dari dua jenis yakni pegawai negeri sipil (PNS) dan pegawai honorer. Jumlah keseluruhan  pada  tahun  anggaran 2008 seperti pada grafik 2.

Sumber : Departemen Pertanian, Badan Pengembangan SDM Pertanian Dalam Angka 2008, Jakarta 2009

Grafik 2

Pegawai BBPP/BBPKH

Widyaswara

Widyaswara sebagai pengajar di BBPP / BBPKH  pada  tahun  anggaran 2008 seperti pada grafik 3.

Sumber : Departemen Pertanian, Badan Pengembangan SDM Pertanian Dalam Angka 2008, Jakarta 2009

Grafik 3

Widyaswara BBPP/BBPKH

Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP)

Widyaswara sebagai pengajar di BBPP / BBPKH  pada  tahun  anggaran 2008 seperti pada grafik 3.

Sumber : Departemen Pertanian, Badan Pengembangan SDM Pertanian Dalam Angka 2008, Jakarta 2009

Grafik 3

Widyaswara BBPP/BBPKH

  1. C. Metode Analisis

Paper ini dalam menganalisis menggunakan alat Data Employment Analysis-Banker,Charnes and Cooper Model-Output (DEA-BCC-O).  DEA merupakan tehnik yang digunakan untuk mengukut optimalisasi yang didasarkan atas perbandingan relative antara beberapa variable input dan variabel output. Hasil analisis DEA-BCC-O yang diperoleh meliputi tingkat nilai efisiensi organisasi, peringat dan proyeksi nilai yang dibutuhkan untuk mencapai tingkat efisiensi.

Balai Besar Pelatihan yang menjadi Data Making Unit (DMU) dalam kajian ini adalah BBPP Lembang, BBPKH Cinagara, BBPP Batu, BBPP Ketindan, BBPP Batangkaluku, BBPP Kupang dan BBPP Binuang. Selanjutnya Indikator yang diukur meliputi :

  1. Input :
  • Jumlah Jabatan Eselon II, III dan IV
  • Jumlah Kelas dan Daya Tampungnya
  • Jumlah Kamar dan Daya Tampungnya
  • Jumlah Kendaraan Roda 2 dan Roda 4
  • Jumlah Rumah Dinas
  • Jumlah Aula
  • Jumlah Laboratorium
  • Jumlah Perpustakaan
  • Jumlah Anggaran
  • Jumlah Pegawai Negeri Sipil dan Honorer
  • Jumlah Widyaswara
  1. Input :
  • Jumlah Penerimaan Negara Bukan Pajak
  1. D. Data input Analisys

DEA tidak dapat angka nol (0) atau kosong dalam melakukan analisanya. Dimana, nol atau kosong menyebabkan hasil analisis tidak akurat bahkan salah (error). Dengan demikian, verifikasi data sangat peting untuk dilakukan dalam penggunaan DEA. Hasil data tersebut seperti pada tabel 2.

Tabel 2

Data Input DEA

BALAI BBPP Lembang BBPKH Cinagara BBPP Batu BBPP Ketindan BBPP Batangkaluku BBPP Kupang BBPP Binuang
Jumlah  E.2b, 3b,  4 11 11 11 11 11 11 11
Kelas Kelas 5 2 2 4 6 3 2
Orang 150 60 100 120 200 60 90
Asrama Kamar 62 38 65 49 50 49 64
Orang 175 90 135 118 150 130 128
Kendaraan Roda 2 49 3 6 82 59 6 150
Roda 4 8 10 8 4 8 6 6
Rumah Dinas 27 21 11 13 42 15 15
Aula 2 2 1 1 2 2 1
Laboratorium 2 3 4 3 5 2 2
Pustaka 1 1 1 1 1 1 1
Anggaran 12,495,502 10,700,774 9,944,299 10,358,517 10,598,575 9,342,329 8,991,770
SDM 116 91 90 94 96 78 67
Widyaswara 25 13 13 13 13 5 12
PNBP 585,855,615 208,900,000 206,538,000 24,700,158 5,859,888 36,461,215 91,671,116

Sumber : diolah dari Departemen Pertanian, Badan Pengembangan SDM Pertanian Dalam Angka 2008, Jakarta 2009

  1. E. Analisis BBPP/BBPKH

Statistik Data Input/output

Hasil Analisis DEA-BCC-O Solver, Statistik Berdasarkan Data Input/output seperti  pada  tabel 3.

Tabel 3

Statistik Data Input/output

Max Min Average SD
Jumlah Eselon 2b, 3b, dan  4a 11 11 11 0
Jumlah Kelas 6 2 3.4 1.5
Daya Tampung Kelas 200 60 111.4 46.7
Jumlah Kamar 65 38 53.9 9.3
Daya Tampung Kamar 175 90 132.3 24.4
Jumlah Kendaraan Roda 2 150 3 50.7 49.5
Jumlah Kendaraan Roda 4 10 4 7.1 1.8
Jumlah Rumah Dinas 42 11 20.6 10.1
Jumlah Aula 2 1 1.6 0.5
Jumlah Laboratorium 5 2 3.0 1.1
Jumlah Pustaka 1 1 1.0 0.0
Jumlah Anggaran 12.495.502 8.991.770 10.347.395,1 1.056.464,4
Jumlah Pegawai 116 67 90.3 14.1
Jumlah Widyaswara 25 5 13.4 5.4
Jumlah PNBP 585.855.615 24.700.158 173.246.284,6 182.522.349,0

Data pada tabel 3 terlihat bahwa indicator jumlah eselon 2b,3b dan 4a dan jumlah perpustakaan memiliki standar deviasi paling kecil yakni nol, hal ini berarti semua BBPP/BBPKH memiliki nilai yang  sama. Sedangkan yang memiliki deviasi besar adalah dalam indikator anggaran dan PNBP.

Score BBPP / BBPKH

Hasil Analisis DEA-BCC-O Solver, Score BBPP/BBPKH seperti  grafik 4.

Grafik 4

Score BBPP/BBPKH

Score Analisa DEA, nilai 1 menunjukan efisien dan < 1 tidak efisien. Dengan demikian Grafik 4 menunjukan 6 BBPP/BBPKH telah efisien meliputi BBPP Ketindan, BBPP Kupang, BBPP Batu, BBPKH Cinagara, BBPP Lembang dan BBPP Binuang. Sedangkan BBPP Batangkaluku tidak efisien.

Struktur Organisasi

Hasil Analisis DEA-BCC-O Solver, Data dan Projention Struktur Organisasi seperti  grafik 5.

Grafik 5

Struktur Organisasi dan Projection

Struktur Organisasi BBPP/BBPKH seluruhnya telah efisien, Hal ini terlihat dari hasil analisis DEA yang menunjukan antara data dan projection DEA tidak terdapat perbedaan.

Kelas

Hasil Analisis DEA-BCC-O Solver, Score Data dan Projention Kelas seperti  grafik 6.

Grafik 6

Score Data Kelas dan Projection

Indikator jumlah kelas telah sesuai dengan kebutuhan kecuali BBPP Batangkaluku yang menunjukan perlu pengurangan jumlah kelas sebanyak 3 kelas. Dengan demikian BBPP Batangkaluku hanya membutuhkan 3 kelas untuk mencapai tingkat efisien.

Asrama

Hasil Analisis DEA-BCC-O Solver, Score Data dan Projention Asrama seperti  grafik 7. Grafik tersebut menunjukan bahwa asrama / kamar telah efisien dan sesuai dengan projection DEA.

Grafik 7

Score Data Asrama dan Projection

Kendaraan

Hasil Analisis DEA-BCC-O Solver, Score Data dan Projention Kendaraan roda 2 dan roda 4 seperti  grafik 8. Grafik tersebut menunjukan bahwa kebutuhan roda 4 telah  sesuai dengan projection DEA. Sedangkan untuk kendaraan roda 2, BBPP Batangkaluku hanya membutuhkan 20 kendaraan roda dua, sehingga perlu dikurangi 39 kendaraan roda dua.

Grafik 8

Score Data Kendaraan dan Projection

Rumah Dinas, Aula, Laboratorium dan Perpustakaan

Hasil Analisis DEA-BCC-O Solver, Score Data dan Projention rumah dinas seperti  grafik 9 dan Score Data dan Projection aula, laboratorium dan perpustakaan seperti pada grafik 10. Kedua Grafik tersebut menunjukan bahwa BBPP Batangkaluku merupakan DMU yang tidak efisien. Hal ini terlihat projection lebih kecil dari kondisi yang ada saat ini, rumah dinas hanya dibutuhkan 20 atau perlu dikurangi sebanyak 22 rumah dinas dan laboratorium hanya dibutuhkan 2 atau perlu dikurangi 3 laboratorium.

Grafik 9

Score Data Rumah Dinas dan Projection

Grafik 10

Score Data Aula, Laboratorium dan Perpustakaan dan Projection

Anggaran

Hasil Analisis DEA-BCC-O Solver, menunjukan bahwa Score Data Anggaran dan Projention  telah efisien untuk seluruh BBPP/BBPKH seperti pada tabel 11.

Grafik 11

Score Data Anggaran dan Projection

Pegawai dan Widyaswara

Hasil Analisis DEA-BCC-O Solver, menunjukan bahwa Score Data Pegawai dan Projention BBPP Batangkaluku perlu mengurangi pegawai sebanyak 4 pegawai seperti pada tabel 12. Sedangkan Score Data dan Projection Widyaswara telah efisien untuk seluruh BBPP/BBPKH seperti pada tabel 13.

Grafik 12

Score Data Pegawai dan Projection

Grafik 13

Score Data Aula, Laboratorium dan Perpustakaan dan Projection

PNBP

Hasil Analisis DEA-BCC-O Solver, menunjukan bahwa Score Data PNBP dan Projention BBPP Batangkaluku perlu meningkatkan PNBP sebesar 310,12 % atau Rp. 240.324.499,00. seperti pada tabel 14.

Grafik 14

Score Data PNBP dan Projection

BBPP Batangkaluku dalam meningkatkan efektifitas dan efisiensi kinerjanya dapat dilakukan dengan dua alternatif yakni menurunkan input dan meningkatkan output. Alternative pertama merupakan hal yang cukup sulit dilaksanakan, hal ini terkait dengan pengurangan jumlah pegawai dan sarana prasarana yang saat ini. Sehingga, Alternatif kedua yakni meningkatkan PNBP merupakan solusi yang yang terbaik dalam meningkatkan efektifitas dan efisiennnya.

  1. F. Penutup

Berdasarkan hasil analisa tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa 6 BBPP/BBPKH telah efisien dan 1 BBPP tidak efisien.  BBPP/BBPKH yang efisien adalah BBPP Lembang, BBPKH Cinagara, BBPP Kupang dan BBPP Binuang, BBPP Batu, BBPP Ketindan. Sedangkan yang tidak efisien adalah BBPP Batangkaluku. Selanjuntya, BBPP/BBPKH yang dapat  menjadi rujukan BBPP Batangkaluku adalah BBPP Lembang, BBPKH Cinagara, BBPP Kupang dan BBPP Binuang.

Daftar Pustaka

Departemen Pertanian,  Badan Pengembangan SDM Pertanian Dalam Angka Tahun 2008, Jakarta 2009

Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 299/Kpts/OT.140/7/2005, Tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pertanian

Worcester Polytechnic Institute, Quantitative Models for Performance Evaluation and Benchmarking Data Envelopment Analysis with Spreadsheets Second Edition, Springer, Joe Zhu, USA 2009

http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=9094&Itemid=699

http://www.deptan.go.id/bpsdm/Webdiktan08/Menu07/profile06.pdf

Biodata


[1] Peneliti PertamaPusat Kajian Kinerja Kelembagaan Lembaga Administrasi Negara (suripto3x@rocketmail.com atau rivto76@yahoo.com)

[2] http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=9094&Itemid=699

[3] http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=9094&Itemid=699

[4] Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 299/Kpts/OT.140/7/2005, Tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pertanian

[5] http://www.deptan.go.id/bpsdm/Webdiktan08/Menu07/profile06.pdf

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 31, 2010 in Uncategorized

 

Tag: , , , , , , ,

One response to “EVALUASI BALAI BESAR PELATIHAN KEMENTERIAN PERTANIAN Suripto[1]

  1. iwan persada

    Juli 18, 2010 at 5:48 am

    selamat dan sukses selalu utk perkembangan institusi bppkh

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: