RSS

PRESTASI KECAMATAN DALAM BIDANG PERTANIAN KABUPATEN KEBUMEN

31 Mar

PRESTASI KECAMATAN DALAM BIDANG PERTANIAN DI KABUPATEN KEBUMEN (Evaluasi  Efisiensi dan Efektifitas) : Suripto[1]

Pendahuluan

Bhumitirta Praja Mukti adalah semboyan Kabupaten Kebumen. Artinya tanah dan air untuk kesejahteraan bangsa dan actor. Semboyan tersebut merupakan wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah menganugerahi tanah yang subur dan air yang berlimpah-limpah. Dimana, kondisi geografis Kabupaten Kebumen terdiri dari tanah pegunungan, hutan dan daerah persawahan dan tegalan yang subur. Dengan kondisi tersebut, visi yang ditetapkan yakni ”Dengan dukungan masyarakat yang agamis dan berkualitas untuk mewujudkan perekonomian Kebumen yang mandiri dan berdaya saing tinggi”. Misi keempat yang ditetapkan adalah Pengembangan perekonomian yang bertumpu pada pemberdayaan masyarakat melalui sinergi fungsi-fungsi pertanian, pariwisata, perdagangan, actory dan dengan penekanan pada peningkatan pendapatan masyarakat serta penciptaan lapangan kerja. Hal ini menunjukan kominten Kabupaten Kebumen untuk mendayagunakan kondisi geografis yang ada untuk mensejahterakan masyarakat.

Kabupaten Kebumen memiliki luas wilayah sebesar 1.281,11 km² dan terdiri dari 26 kecamatan.  Dari luas wilayah tersebut, sebesar 31,09 % luas wilayah merupakan lahan pertanian.  Pada perekonomian daerah, actor pertanian memberikan kontribusi actor ini terhadap pembentukan Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Kebumen menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku mencapai 34,71% dan atas dasar harga konstan tahun 2000 sebesar 39,08%. Sub Sektor pertanian meliputi Tanaman Bahan Makanan, Tanaman Hortikultura, Perkebunan, Peternakan, Perikanan dan Kehutanan. Hasil sub sector tanaman pangan tahun 2006 meliputi Produksi padi sebesar 403.317,90 ton, Jagung sebesar 16.524,85 ton, ubi kayu sebesar 115.151,62 ton dan jumlah produksi tanaman palawija. Hasil sub sector holtikutura meliputi tanaman sayuran dan buah-buahan antara lain cabe sebesar 10.417,20 kwintal, kacang panjang sebesar 6.996,20 kwintal, melinjo sebesar 15.395,85 dan petai sebesar 14.022,60 kwintal dan pisang sebesar 145.040,00 kwintal. Hasil perkebunan meliputi kelapa sebesar 151.757.595 butir, cengkeh 920,22 kwintal , kopi sebesar 829,03 22 kwintal, kapok sebesar 170,04 22 kwintal, dan tembakau sebesar 2.359,93 22 kwintal. Hasil Peternakan antara lain  sapi 34.238 ekor, Kambing 124.917 ekor, dan ayam sayur 1.972.594 ekor. Hasil perikanan antara lain ikan sebesar 2.241.881,60 kg,  perikanan laut sebesar 1.174,34 ton.

Kontribusi tersebut secara administatif merupakan kompilasi dari hasil pertanian kecamatan. Sehingga akan menarik untuk mengetahui bagimana tingkat efektifitas dan efisiensi dalam bidang pertanian ?  Untuk itu, perlu dilakukan evaluasi bidang pertanian di setiap kecamatan di Kabupaten Kebumen. Penulis menyadari banyak sub factor pertanian dan banyak juga factor yang mempengaruhi hasilnya. Faktor tersebut antara lain letak geografis, sumber daya manusia (petani, nelayan, peternak, dll), luas wilayah, cuaca, iklim, tingkat pengetahun dan lain sebagainya. Oleh karena itu, paper ini memfokuskan pada beberapa faktor yang menjadi variable evaluasi yakni luas lahan dan jumlah petani dalam sub factor tanaman pangan.

Data dan Fakta

Luas Sawah dan Ladang

Luas sawah dan ladang merupakan salah satu actor penting dalam kuantitas produksi pertanian. Berdasarkan data BPS, luas areal sawah dan ladang di Kabupaten Kebumen berdasarkan kecamatan seperti pada grafik 1.

Grafik 1

Luas Sawah dan Ladang

Kecamatan yang memiliki luas areal sawah dan ladang < 5,000 Ha sebanyak 15 Kecamatan dan > 5,000 Ha sebanyak 11 Kecamtan. Luas areal < 5,000 Ha meliputi  Kecamatan Gombong, Bonorowo,  Prembun ,  Poncowarno ,  Padureso,  Karanganyar,  Kutowinangun,  Kuwarasan, Pejagoan,  Kebumen,  Klirong,  Adimulyo,  Sruweng, Petanahan, dan  Buluspesantren.  Luas areal > 5,000 meliputi Kecamatan Mirit, Rowokele, Sadang, Alian, Puring, Ambal, Karangsambung, Buayan, Ayah, Sempor, Karanggayam. Kabupaten yang memiliki luas areal paling besar di Kecamatan Karanggayam dengan luas areal 10,929 Ha. Sedangkan luas areal paling kecil di Kecamatan Gombong dengan luas areal  1,948 Ha.

Luas arel Irigasi

Kabupaten Kebumen memiliki 4 jenis irigasi yakni teknis, setengah teknis, sederhana PU dan sederhana non PU. Wilayah yang tidak mendapat irigasi teknis yakni  puring, karanggayar dan sadang. Kecamatan yang memiliki areal paling luas dengan irigasi ini yakni Kecamatan Ambal dengan luas 2.742 Ha. Sedangkan  kecamatan yang memiliki irigasi setengah teknis sebanyak 13 kecamatan dan sebanyak 13 kecamatan lainnya belum. Namun demikian, secara keseluruhan kecamatan telah mendapatkan layanan irigasi kecuali Kecamatan Karanggayar. Secara lengkap layanan irigasi seperti pada grafik 2.

Grafik 2

Luas arel Irigasi

Prosentase Petani dan Penduduk

Kabupaten Kebumen  merupakan daerah agraris. 17 Kecamatan memiliki jumlah petani lebih dari 50 % jumlah penduduknya. Kecamatan tersebut meliputi Petanahan, Prembun, Klirong, Buayan, Karangsambung, Buluspesantren, Rowokele, Ambal, Adimulyo, Karanggayam, Mirit, Sadang, Ayah, Poncowarno, Puring, Padureso, dan Bonorowo. Dan hanya 9 kecamatan yang memiliki penduduk kurang dari 50% jumlah penduduknya. Kecamatan yang memiliki prosentase petani paling kecil yakni Gombong dengan jumlah 11,6 %, sedangkan yang terbesar Bonorowo dengan prosentase petani sebesar 81,7%. Prosentase lebih rinci tergambar pada grafik 3.

Grafik 3

Prosentase Petani  dan Penduduk

Perbandingan Jumlah Pekerja dan Petani

Petani merupakan ujung tombak dalam bidang pertanian. Kuantitas  petani juga menjadi factor utama dalam mencapai produktifitasnya. Jumlah petani disandingkan dengan jumlah seluruh perkerja seperti pada grafik 4.

Grafik 4

Perbandingan Jumlah Pekerja dan Petani

Berdasarkan grafik diatas, prosentase petani < 50% sebanyak 9 kecamatan dan > 50 % sebanyak 17 Kecamatan. Kecamatan < 50 % meliputi Kecamatan Gombong, Kebumen, Pejagoan, Karangayar, Sruweng, Kutowinangun, Sempor, Alian dan Kuwarasan.  Petanahan, Prembun, Klirong, Buayan, Karangsambung, Buluspesantren, Rowokele, Ambal, Adimulyo, Karanggayam, Mirit, Sadang, Ayah, Poncowarno,Puring, Padureso, dan Bonorowo. Kecamatan yang paling sedikit memiliki petani yakni Kecamatan Gombong sebesar 2,320 petani. Sedangkan jumlah terbanyak berada di Kecamatan Karanggayam sebesar 25,221 petani. Dengan demikian, pendudukan kabupaten kebumen sebagian besar bekerja sebagai petani.

Pencari Kerja

Data pencari kerja  di Kabupaten Kebumen  tahun 2006 sangat bervariasi antara satu kecamatan dengan kecamatan lainnya. Jumlah pencari kerja per kecamatan seperti pada grafik  5.

Grafik 5

Pencari Kerja Kabupaten Kebumen

Pencari kerja paling kecil berada di Kecamatan Padureso dengan jumlah sebesar 143 orang. Sedangkan paling banyak sebesar 5570 orang. Faktor yang mempengaruhi jumlah pencari kerja antara lain jumlah petani di daerah tersebut. Berdasarkan data pada grafik 3 dan grafik 4 terlihat bahwa sebagian wilayah yang memiliki jumlah petani besar, jumlah pencari kerja sedikit seperti Karanggayam, Petanahan, Ambal dan Mirit. Begitu juga sebaliknya Pencari kerja yang besar jumlah petaninya sedikit seperti Gombong, Kebumen, Sadang dan Kutowinangun. Hal tersebut juga tidak terlepas dari letak kecamatan tersebut yang berada di perkotaan dan pedesaan.

Produksi Padi dan Non Padi

Kabupaten Kebumen tahun 2006 memproduksi padi  sebesar 403.317,90 ton dan produksi non padi sebanyak 157.574 ton. Rincian produksi padi dan non padi pada setiap kecamatan seperti pada grafik 6.

Grafik 6

Produksi Bahan Makanan Padi dan Non Padi

Kecamatan yang menjadi lumbung padi Kabupaten Kebumen antara lain Ambal, Puring, Kebumen dan Adimulnyo. Kecamatan tersebut memiliki produksi padi lebih dari > 25.000 ton / tahun. Sedangkan untuk produksi non padi terbesar yakni > 13.000  ton meliputi kecamatan Buayan, Sempor dan Karanggayam. Grafik 5 menunjukan bahwa kecamatan dengan produksi padi besar dan memiliki produksi non padi kecil.

Produksi Non Padi

Produksi non padi meliputi jagung, ketela pohon, ketela rambat, kacang tanah, dan kacang hijau.            Sentra jagung dengan produksi lebih dari 3.846 kwintal meliputi Kecamatan Puring, Ambal dan Buluspesantren, sedangkan sebanyak  11 kecamatan tidak memiliki produksi jagung meliputi Adimulyo, Alian, Bonorowo, Gombong, Karanganyar, Karanggayam, Karangsambung, Kebumen, Kutowinangun, Kuwarasan, dan Sruweng. Ketela pohon dengan produksi lebih dari  10.000 kwintal Buayan, Sempor dan Karanggayam sedangkan yang tidak memiliki produksi meliputi petanahan dan ambal. Ketela rambat merupakan komoditi yang belum optimal hal ini terlihat dari produksi paling banyak lebih dari 50 kwintal meliputi petanahan, sadang, dan padureso dan sebanyak 16 kecamatan tidak memiliki produksi ketela rambat. Kecamatan yang memiliki produksi kacang tanah lebih dari 600 kwintal sebanyak 6 kecamatan meliputi Buluspesantren, Klirong, Mirit, Petanahan, Ambal, dan Puring. Dan yang tidak memiliki produksi Gombong, Kuwarasan dan Kebumen. Kacang kedelai  dengan produksi lebih dari 800 kwintal meliputi kecamatan Buluspesantren, Klirong, Kuwarasan, dan Puring. Sedangkan yang tidak memiliki produksi kacang kedelai  Adimulyo, Karanggayam, dan Sruweng. Kacang hijau dengan hasil lebih dari 5000 kwintal meliputi Gombong, Sruweng, Buayan, Kuwarasan dan Adimulyo.  Sedangkan yang tidak memiliki produksi kacang hijau prembun. Selanjutnya gambaran produksi secaralengkap pada grafik 7.

Grafik 7

Produksi Non Padi

Konsep dan Methode Analisis

Prestasi (Performance) adalah  hasil yg telah dicapai dari sesuatu  yg telah dikerjakan.[2] Untuk menentukan nilai prestasi kognitif dan biasanya ditentukan melalui pengukuran dan penilaian. Sehingga untuk mencapai Prestasi yang baik harus dilakukan berdasarkan manajemen prestasi. Manajemen kinerja meliputi kegiatan untuk memastikan bahwa tujuan-tujuan secara konsisten terpenuhi secara efektif dan efisien. Dengan demikian prestasi dapat diarikan sebagai hasil pengukuran dalam mencapai tujuan secara efisien.

Prestasi yang baik adalah pencapaian hasil dengan efektif dan efisien. Effectiveness is Degree to which the outputs of a service provider achieve the stated objectives of that service.[3] Efficiency is Degree to which the observed use of resources to produce outputs of a given quality matches the optimal use of resources to produce outputs of a given quality.[4] Berdasarkan konsep tersebut maka Pertasi (Performance) merupakan pencapaian out yang berkualitas dengan menggunakan sumber daya secara optimal.

Alat penilaian efisiensi dan efektifitas paper ini menggunakan Data Envelopment Analysis (DEA). Alasan penggunaan DEA sebagimana di ungkapkan Fried and Lovell (1994) bahwa DEA dapat membantu menjawab pertanyaan para manajer  sebagai  berikut[5] :

  • How do I select appropriate role models to serve as possible benchmarks for a program of performance improvement?
  • Which production facilities are the most efficient in my organisation?
  • If all my operations were to perform according to best practice, how many more service outputs could I produce and how much could I reduce my resource inputs by, and in what areas?
  • What are the characteristics of efficient operating facilities and how can they guide me in choosing locations for expansion?
  • What is the optimum scale for my operations and how much would I save if all my facilities were the optimum size?
  • How do I account for differences in external circumstances in evaluating the performance of individual operating facilities?

Dengan menggunakan Model DEA sederhana telah dapat memberikan jawaban pada empat pertanyaan diatas. Sedangkan untuk menjawab dua pertanyaan terakhir dibutuhakan beberapa model lainnya.

Salah satu model DEA yakni Banker-Charnes-Cooper atau dikenal dengan DEA model BCC. Model ini memiliki dua orientasi yakni input (DEA-BCC-I) dan output (DEA-BCC-O). DEA-BCC-I merupakan model analisis yang menitik beratkan pada perbaikan atau efisiensi input, sedangkan DEA-BCC-O menitik beratkan pada efisiensi output. Paper ini dalam menganalisis menggunakan model DEA-BCC-O.

Analisis

Statistics on Input/Output Data

Kecamatan yang di analisis (DMUs) sebanyak 26 kecamatan.  Input yang digunakan sebanyak 2 yakni luas lahan dan jumlah petani. Output yang digunakan yakni produksi padi dan produksi non padi. Hasil statistic berdasarkan data input dan output seperti  pada  tabel 1.

Tabel 1

Data Statistik Input dan Output

Luas lahan Petani Produksi Padi Produksi Non Padi
Max 10929 25221 33012 47088
Min 1948 2320 1517 352
Average 4927.346 12782.85 14693.12 6060.538
SD 2189.992 6173.751 7581.39 9026.516

Peringkat dan Score Efisiensi

Hasil Analisis menunjukan bahwa empat kecamatan efisien dan 22 kecamatan tidak efisien. Kecamatan yang efisien meliputi Adimulyo, Gombong, Karanganyar, dan Karanggayam.  Berdasarkan data input dan output, maka kecamatan yang efisien memiliki output lebih besar dibandingkan dengan inputnya.  Secara rinci dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2

Score, Input dan Oputput

Kecamatan Score Luas Lahan Jlh Petani Produksi Padi Produksi Non Padi
Adimulyo 1 4,343 11,466 33,012 1,845
Gombong 1 1,948 2,320 13,230 954
Ayah 0.38 7,637 24,526 12,288 896
Rowokele 0.34 5,379 12,221 10,739 1,379

Peringkat dan score efisiensi kecamatan dalam bidang pertanian di Kabupaten Kebumen seperti pada grafik 8

Grafik 8

Peringkat  dan Score Efisiensi

Projection peningkatan efisiensi

Hasil Analisa DEA – BCC-O memproyeksikan bahwa kecamtan yang tidak efisien dapat meningkatkannya seperti pada penjelasan berikut ini.

  1. Kecamatan  Ayah dalam meningkatkan efisiensinya harus melakukan peningkatan output dan mengurangi input. Peningkatan output dilakukan dengan menambah produksi padi 166,25 %. dan non padi sebesar 166,25 %. Sedangkan  untuk pengurangan input dilakukan dengan mengurangi luas lahan 42.10%  dan jumlah petani 52.58%. Referensi (Benchmarking) dalam meningkatkan efisiensi yakni Kacamatan Adimulyo dan Karanggayam.
  1. Kecamatan  Buayan dalam meningkatkan efisiensinya harus melakukan peningkatan output dan mengurangi input. Peningkatan output dilakukan dengan menambah produksi padi 69.05 %  dan non padi sebesar 69.05 %.  Sedangkan  untuk pengurangan input dilakukan dengan mengurangi jumlah petani 7.73 %.  Referensi (Benchmarking) dalam meningkatkan efisiensi yakni Kacamatan Adimulyo, Gombong  dan Karanggayam.
  1. Kecamatan  Puring dalam meningkatkan efisiensinya harus melakukan peningkatan output dan mengurangi input. Peningkatan output dilakukan dengan menambah produksi padi 12.36 %  dan non padi sebesar 12.36 %.  Sedangkan  untuk pengurangan input dilakukan dengan mengurangi luas lahan 16.43 % dan jumlah petani 29.55 %.    Referensi (Benchmarking) dalam meningkatkan efisiensi yakni Kacamatan Adimulyo, dan Karanggayam.
  1. Kecamatan  Petanahan dalam meningkatkan efisiensinya harus melakukan peningkatan output dan mengurangi input. Peningkatan output dilakukan dengan menambah produksi padi 25,50 %  dan non padi sebesar 25.50 %.  Sedangkan  untuk pengurangan input dilakukan dengan mengurangi jumlah petani 27.05 %.   Referensi (Benchmarking) dalam meningkatkan efisiensi yakni Kacamatan Adimulyo, Gombong dan Karanggayam.
  1. Kecamatan  Klirong dalam meningkatkan efisiensinya harus melakukan peningkatan output dan mengurangi input. Peningkatan output dilakukan dengan menambah produksi padi 54,78 %  dan non padi sebesar 54,78 %.  Sedangkan  untuk pengurangan input dilakukan dengan mengurangi jumlah petani 26.57 %.   Referensi (Benchmarking) dalam meningkatkan efisiensi yakni Kacamatan Adimulyo, Gombong dan Karanggayam.
  1. Kecamatan  Buluspesantren dalam meningkatkan efisiensinya harus melakukan peningkatan output dan mengurangi input. Peningkatan output dilakukan dengan menambah produksi padi 23,29 %  dan non padi sebesar 23.29 %.  Sedangkan  untuk pengurangan input dilakukan dengan mengurangi jumlah petani 31.84 %.    Referensi (Benchmarking) dalam meningkatkan efisiensi yakni Kacamatan Adimulyo, Gombong dan Karanggayam.
  1. Kecamatan  Ambal dalam meningkatkan efisiensinya harus melakukan peningkatan output dan mengurangi input. Peningkatan output dilakukan dengan menambah produksi padi 21.36 %  dan non padi sebesar 21.36 %.  Sedangkan  untuk pengurangan input dilakukan dengan mengurangi luas lahan 20,66 % dan jumlah petani 43,87 %.    Referensi (Benchmarking) dalam meningkatkan efisiensi yakni Kacamatan Adimulyo, dan Karanggayam.
  1. Kecamatan  Mirit dalam meningkatkan efisiensinya harus melakukan peningkatan output dan mengurangi input. Peningkatan output dilakukan dengan menambah produksi padi 76,08 %  dan non padi sebesar 76,08 %.  Sedangkan  untuk pengurangan input dilakukan dengan mengurangi luas lahan 10,56 % dan jumlah petani 43,56 %.  Referensi (Benchmarking) dalam meningkatkan efisiensi yakni Kacamatan Adimulyo, dan Karanggayam.
  1. Kecamatan  Bonorowo dalam meningkatkan efisiensinya harus melakukan peningkatan output dan mengurangi input. Peningkatan output dilakukan dengan menambah produksi padi 0,90 %  dan non padi sebesar 122.83 %.  Sedangkan  untuk pengurangan input dilakukan dengan mengurangi jumlah petani 62,03 %.  Referensi (Benchmarking) dalam meningkatkan efisiensi yakni Kacamatan Adimulyo, dan Gombong.
  1. Kecamatan  Prembun dalam meningkatkan efisiensinya harus melakukan peningkatan output dan mengurangi input. Peningkatan output dilakukan dengan menambah produksi padi 46,14 %  dan non padi sebesar 46,14 %.  Sedangkan  untuk pengurangan input dilakukan dengan mengurangi jumlah petani 49,53 %.  Referensi (Benchmarking) dalam meningkatkan efisiensi yakni Kacamatan Adimulyo, Gombong dan Karanggayam.
  1. Kecamatan  Padureso dalam meningkatkan efisiensinya harus melakukan peningkatan output dan mengurangi input. Peningkatan output dilakukan dengan menambah produksi padi 533,97 %  dan non padi sebesar 83,36 %.  Sedangkan  untuk pengurangan input dilakukan dengan mengurangi jumlah petani 1,81 %.  Referensi (Benchmarking) dalam meningkatkan efisiensi yakni Kacamatan Gombong, dan Karangayar.
  1. Kecamatan  Kutowinangun dalam meningkatkan efisiensinya harus melakukan peningkatan output dan mengurangi input. Peningkatan output dilakukan dengan menambah produksi padi 115,91 %  dan non padi sebesar 321,63 %.  Sedangkan  untuk pengurangan input dilakukan dengan mengurangi jumlah petani 19,58 %.  Referensi (Benchmarking) dalam meningkatkan efisiensi yakni Kacamatan Adimulyo, Gombong dan Karanggayam.
  1. Kecamatan  Alian dalam meningkatkan efisiensinya harus melakukan peningkatan output dan mengurangi input. Peningkatan output dilakukan dengan menambah produksi padi 136,62 %  dan non padi sebesar 136,62 %.  Sedangkan  untuk pengurangan input dilakukan dengan mengurangi luas lahan 21,47 % dan jumlah petani 15,99 %.  Referensi (Benchmarking) dalam meningkatkan efisiensi yakni Kacamatan Adimulyo, dan Karanggayam.
  1. Kecamatan  Poncowarno dalam meningkatkan efisiensinya harus melakukan peningkatan output dan mengurangi input. Peningkatan output dilakukan dengan menambah produksi padi 41,10 %  dan non padi sebesar 41,10 %.  Sedangkan  untuk pengurangan input dilakukan dengan mengurangi jumlah petani 3,92 %. Referensi (Benchmarking) dalam meningkatkan efisiensi yakni Kacamatan Karangayar, Gombong dan Karanggayam.
  1. Kecamatan  Kebumen dalam meningkatkan efisiensinya harus melakukan peningkatan output dan mengurangi input. Peningkatan output dilakukan dengan menambah produksi padi 7,75 %  dan non padi sebesar 104,08 %.  Sedangkan  untuk pengurangan input dilakukan dengan mengurangi luas lahan 8,96 %.  Referensi (Benchmarking) dalam meningkatkan efisiensi yakni Kacamatan Adimulyo, dan Gombong.
  1. Kecamatan  Pejagoan dalam meningkatkan efisiensinya harus melakukan peningkatan output dan mengurangi input. Peningkatan output dilakukan dengan menambah produksi padi 139,34 %  dan non padi sebesar 139,34 %.  Sedangkan  untuk pengurangan input dilakukan dengan mengurangi jumlah petani 10,72 %.  Referensi (Benchmarking) dalam meningkatkan efisiensi yakni Kacamatan Karangayar, Gombong dan Karanggayam.
  1. Kecamatan  Sruweng dalam meningkatkan efisiensinya harus melakukan peningkatan output dan mengurangi input. Peningkatan output dilakukan dengan menambah produksi padi 44.71%  dan non padi sebesar 44.71 %.  Sedangkan  untuk pengurangan input dilakukan dengan mengurangi jumlah petani 17,40 %.  Referensi (Benchmarking) dalam meningkatkan efisiensi yakni Kacamatan Adimulyo, Gombong dan Karanggayam.
  1. Kecamatan  Kuwarasan dalam meningkatkan efisiensinya harus melakukan peningkatan output dan mengurangi input. Peningkatan output dilakukan dengan menambah produksi padi 4.18 %  dan non padi sebesar 4.18 %.  Sedangkan  untuk pengurangan input dilakukan dengan mengurangi jumlah petani 22,13 %.    Referensi (Benchmarking) dalam meningkatkan efisiensi yakni Kacamatan Adimulyo, Gombong dan Karanggayam.
  1. Kecamatan  Rowokele dalam meningkatkan efisiensinya harus melakukan peningkatan output dan mengurangi input. Peningkatan output dilakukan dengan menambah produksi padi 196,03 %  dan non padi sebesar 196,03 %.  Sedangkan  untuk pengurangan input dilakukan dengan mengurangi luas lahan 13,21 % dan jumlah petani 0,61 %.  Referensi (Benchmarking) dalam meningkatkan efisiensi yakni Kacamatan Adimulyo, dan Karanggayam.
  1. Kecamatan  Sempor dalam meningkatkan efisiensinya harus melakukan peningkatan output dan mengurangi input. Peningkatan output dilakukan dengan menambah produksi padi 38,01 %  dan non padi sebesar 38,01 %.  Sedangkan  untuk pengurangan input dilakukan dengan mengurangi luas lahan 36,29 %.  Referensi (Benchmarking) dalam meningkatkan efisiensi yakni Kacamatan Adimulyo, Gombong dan Karanggayam.
  1. Kecamatan  Sadang dalam meningkatkan efisiensinya harus melakukan peningkatan output dan mengurangi input. Peningkatan output dilakukan dengan menambah produksi padi 93,11 %  dan non padi sebesar 56,87 %.  Sedangkan  untuk pengurangan input dilakukan dengan mengurangi luas lahan 29,93 %. Referensi (Benchmarking) dalam meningkatkan efisiensi yakni Kacamatan Gombong, dan Karanggayam.
  1. Kecamatan  Karangsambung dalam meningkatkan efisiensinya harus melakukan peningkatan output dan mengurangi input. Peningkatan output dilakukan dengan menambah produksi padi 107,21 %  dan non padi sebesar 107,21 %.  Sedangkan  untuk pengurangan input dilakukan dengan mengurangi luas lahan 2,24 %.  Referensi (Benchmarking) dalam meningkatkan efisiensi yakni Kacamatan Adimulyo, Gombong dan Karanggayam.

Hasil Analisis untuk kecamatan yang tidak efisien menunjukan bahwa perlunya peningkatan output dan pengurangan input. Kebijakan untuk meningkatkan output dapat dilakukan dengan peningkatan teknis pertanian yang meliputi kualitas petani, irigasi, tehnik pertanian dan lain sebagainya. Namun untuk mengurangi input seperti mengurangi luas lahan dan jumlah petani merupakan hal yang sulit dilakukan. Dimana hal ini akan terkait dengan banyak sector antara lain lingungan, ketersediaan lapangan kerja di sector lain. Untuk efisiensi dari indicator input tentunya akan lebih sulit dilakukan, oleh karena itu, peningkatan efisiensi dilakukan dengan lebih meningkatkan produktifitas output.

Penutup

Berdasarkan analisis diatas dapat disimpulkan bahwa  sebanyak  4 kecamatan telah efisien dan sebanyak 22 kecamatan tidak efisien. Dalam meningkatkan efisiensi sebanyak 10 kecamatan mengurangi jumlah lahan, 18 kecamatan mengurangi jumlah petani dan semua kecamtan yang tidak efisien harus meningkatkan produksi padi dan non padi.

Kecamatan yang efisien menjadi referensi kecamatan yang tidak efisien. Frekuensi referensi kecamatan tersebut sebagai berikut Kecamatan Adimulyo sebanyak 18 kali, Kecamatan Gombong sebanyak 16 kali, Kecamatan Karangayar sebanyak 3 kali dan Kecamatan Karanggayam sebanyak 18 kali. Kecamatan yang menjadi referensi relative memiliki praktek kerja yang optimal, kuantitas dan kombinasi output untuk suatu jumlah dan kombinasi dari input (produktivitas) untuk sekelompok organisasi serupa. Dengan kata lain Kecamatan tersebut menjadi best practices untuk kecamatan yan merujuknya.

Paper ini melakukan analisis tidak secara komprehensip, namun demikian analisis ini dapat menjadi salah satu acuhan dalam meningkatkan efisiensi kecamatan yang belum efisien. Terima kasih.

Referensi

Badan Pusat Statistik Kabupaten Kebumen,  Kebumen Dalam Angka 2006, Kebumen, 2007

Steering Committee for the Review of Commonwealth/State Service Provision,  Data Envelopment Analysis A Technique For Measuring The Efficiency Of Government Service Delivery, Melbourne, 1997

http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php

http://en.wikipedia.org/wiki/Performance_management


[1] Peneliti Pertama Pusat Kajian Kinerja Kelembagaan LAN

[2] http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php

[3] Steering Committee for the Review of Commonwealth/State Service Provision,  Data Envelopment Analysis A Technique For Measuring The Efficiency Of Government Service Delivery, Melbourne, 1997

[4] Steering Committee for the Review of Commonwealth/State Service Provision,  Data Envelopment Analysis A Technique For Measuring The Efficiency Of Government Service Delivery, Melbourne, 1997

[5] Steering Committee for the Review of Commonwealth/State Service Provision,  Data Envelopment Analysis A Technique For Measuring The Efficiency Of Government Service Delivery, Melbourne, 1997

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 31, 2010 in Uncategorized

 

Tag: , , , , , ,

6 responses to “PRESTASI KECAMATAN DALAM BIDANG PERTANIAN KABUPATEN KEBUMEN

  1. erni

    Januari 26, 2011 at 8:00 am

    Ass
    saya sangat tertarik dg tulisan ini. karena kebetulan saya ingin melakukan penelitian di kebumen..yang ingin saya tanyakan, bagaimana saya dapat mendapatkan data produksi, konsumsi pangan kab.Kebumen?
    terima kasih…

     
    • suripto3x

      Januari 26, 2011 at 9:59 am

      Data-data yang saya gunakan semua merupakan olehan dari Kebumen Dalam Angka. mbak erni dapat cari aja dengan mesin google. bila mengalami kesulitan mbak erni dapat kirim email ke suripto3x@rocketmail.com. Terima kasih

       
  2. satria

    Februari 16, 2011 at 4:58 am

    Aslm…
    Saya aprseisasi pak dengan blognya bapak…

    semoga dengan keterbukaan informasi apalagi dalam bentuk analisis spt di atas…..semoga kebumen makin maju…

    saya juga kebetulan sedang skripsi di kabupaten kebumen tentang wilayah kekeringan dalam beberpa tahun terakhir…

    dalam rangka melihat keberlanjutan dan peluang dalam mempertahankan ketahanan pangan di kebumen..hehe

     
    • suripto3x

      Februari 18, 2011 at 6:15 am

      terima kasih mas satria

       
  3. pendah

    September 27, 2011 at 5:03 am

    assalamualaikum…. pak mau tanya apakah di kebumen ada home industri nata de coco???? selain itu produksi jahe di daerah kebumen itu daerah mana ya???? mohon jawabannya segera pak….

     
    • suripto3x

      September 27, 2011 at 2:32 pm

      wa’alaikum wb. produksi jahe yang banyak ke kebumen di daerah sempor, karangsambung dan poncowarno. untuk nata de coco sudah ada tapi tepatnya dimana kurang tahu… trims responya

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: